BERITA TERKINI
Upaya Israel Dorong Perubahan di Iran Dinilai Berbalik Arah dan Picu Sorotan Hukum Internasional

Upaya Israel Dorong Perubahan di Iran Dinilai Berbalik Arah dan Picu Sorotan Hukum Internasional

Salah satu pertanyaan utama dari perang Israel melawan Iran adalah apakah Israel berhasil mendorong terjadinya perubahan rezim di Teheran. Menurut Goldberg, upaya itu justru menghasilkan dampak sebaliknya.

Goldberg menilai Israel berusaha memicu pemberontakan terhadap pemerintah Iran dengan membunuh para pemimpin militer dari berbagai struktur keamanan negara tersebut. Strategi itu bertumpu pada keyakinan bahwa cara paling efektif untuk mengacaukan musuh adalah melalui pembunuhan tokoh-tokoh senior. Namun, ia menyebut pendekatan tersebut tidak pernah benar-benar berhasil menciptakan perubahan politik besar.

Ia mencatat satu-satunya pengecualian yang mungkin adalah dampak kematian Hassan Nasrallah terhadap Hizbullah di Lebanon, tetapi itu pun dinilai lebih terkait dengan dinamika politik internal Lebanon. Di luar itu, pembunuhan yang dilakukan Israel disebut gagal memicu perubahan politik signifikan di berbagai kasus.

Dalam konteks Iran, serangkaian pembunuhan justru disebut menggalang dukungan publik di sekitar pemerintah. Israel membunuh sejumlah komandan senior Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yang dipandang sebagai salah satu elemen paling kuat dalam politik Iran saat ini, sekaligus termasuk yang paling dibenci oleh sebagian publik Iran.

Meski demikian, Goldberg menyebut banyak warga Iran yang selama ini menganggap diri mereka penentang keras Republik Islam, termasuk terhadap IRGC, pada akhirnya mendapati diri mereka ikut mendukungnya. Menurutnya, hal itu terjadi karena masyarakat memandang yang diserang adalah Iran sebagai negara, bukan semata-mata “rezimnya”.

Upaya Israel mengebom apa yang disebut “simbol rezim” juga dinilai memperburuk keadaan. Goldberg mencontohkan serangan udara Israel ke Penjara Evin, yang dikenal karena penyiksaan terhadap tahanan politik. Ia mengatakan Israel mencoba membingkai serangan tersebut sebagai kontribusi bagi perjuangan rakyat Iran melawan penindasan Republik Islam. Namun, menurut Goldberg, pemboman itu justru memperburuk situasi para tahanan karena otoritas memindahkan banyak dari mereka ke lokasi yang tidak diketahui.

Di sisi lain, muncul pula sorotan terkait aspek hukum internasional. Jika Israel tidak berhasil mencapai tujuan perang yang dinyatakannya, muncul pertanyaan apakah langkah itu setidaknya mampu menggalang dukungan dunia, mengalihkan perhatian publik dari Gaza, dan menempatkan Israel sebagai pihak yang dianggap berjuang dengan baik. Goldberg menilai hal itu tampak meragukan, meski ia mencatat Presiden Donald Trump dan Amerika Serikat memang menyerang fasilitas nuklir Iran.