Uni Eropa menetapkan kerangka hukum baru untuk mengakhiri ketergantungan pada gas Rusia melalui larangan impor yang diberlakukan bertahap. Namun, pengetatan aturan ini datang ketika tingkat penyimpanan gas Eropa menurun cepat pada musim dingin, sementara pasokan pengganti semakin bertumpu pada gas alam cair (LNG). Kondisi tersebut dinilai meningkatkan kerentanan Eropa terhadap gangguan cuaca di Amerika Serikat, dinamika pengiriman di Cekungan Atlantik, serta risiko hambatan pada keamanan pasokan harian.
Peraturan yang disetujui negara-negara anggota Uni Eropa pada 26 Januari 2026 mengatur penghentian bertahap impor LNG dan gas pipa dari Rusia. Slovakia dan Hongaria menentang langkah tersebut, sementara Bulgaria abstain. Meski demikian, aturan tetap disahkan sesuai mekanisme pemungutan suara yang berlaku. Hongaria disebut mengindikasikan kemungkinan menggugat aturan itu ke pengadilan, tetapi kebijakan tersebut kini telah menjadi bagian dari regulasi Uni Eropa.
Dalam garis waktu yang ditetapkan, impor LNG Rusia akan dihentikan bertahap hingga 2026, dengan larangan penuh mulai 1 Januari 2027. Sementara itu, impor gas Rusia melalui pipa akan dilarang mulai 30 September 2027. Regulasi juga membuka opsi terbatas untuk menggeser tenggat tersebut ke 1 November 2027 jika suatu negara menghadapi kondisi tertentu, yakni ketika “penyimpanan tidak dapat diisi”.
Dampak kebijakan ini dinilai bersifat kontraktual dan operasional sejak awal. Aturan yang lebih ketat mengurangi fleksibilitas dalam perpanjangan kontrak, penjadwalan, dan kepatuhan, bahkan sebelum tenggat larangan penuh berlaku. Situasi ini disebut berpotensi memperketat pasar, terutama ketika kapasitas penyimpanan rendah dan pembeli memiliki cadangan terbatas untuk mengantisipasi keterlambatan pasokan.
Skala pergeseran tersebut sudah terlihat pada proyeksi impor. Dokumen Dewan memperkirakan gas Rusia akan menyumbang 13% dari impor Uni Eropa pada 2025, turun dari lebih dari 40% sebelum perang. Kebijakan baru menargetkan penurunan pangsa itu hingga nol.
Di sisi lain, kondisi penyimpanan menjadi faktor kunci dalam menentukan ketahanan pasar. Pada 29 Januari, penyimpanan gas Eropa tercatat 44%, terendah sejak 2022 dan berada di bawah rata-rata 10 tahun untuk tanggal yang sama. Jika pola konsumsi berlanjut, tingkat penyimpanan diperkirakan dapat turun menjadi 30% atau lebih rendah pada Maret, yang akan membuat pengisian ulang pada musim panas menjadi lebih sulit dan meningkatkan risiko volatilitas harga.
Peran penyimpanan kerap dianggap sebagai peredam guncangan. Saat stok tinggi, keterlambatan pengiriman dapat ditahan tanpa dampak besar. Namun ketika stok rendah, gangguan yang sama lebih cepat memengaruhi harga karena ruang penyangga menipis. Reuters memperkirakan Eropa membutuhkan sekitar 60 miliar meter kubik (bcm) untuk mengembalikan persediaan ke sekitar 83% sebelum musim dingin berikutnya.
Rendahnya persediaan juga memengaruhi perilaku pasar. Pembeli cenderung mengamankan pasokan lebih awal dan lebih konsisten pada musim panas, sehingga pasar menjadi lebih sensitif terhadap gangguan LNG atau lonjakan permintaan yang tak terduga. Kondisi ini dapat memicu volatilitas lebih tinggi meski pasokan secara agregat tetap memadai.
Uni Eropa juga merevisi kerangka target penyimpanan untuk menghindari tenggat tunggal yang berpotensi memicu perilaku “harus membeli”. Target 90% kini dapat dipenuhi kapan saja antara 1 Oktober dan 1 Desember, dengan fleksibilitas pada kondisi yang menantang. Perubahan ini dapat mengurangi distorsi harga, tetapi tidak menghapus tantangan pengisian ulang jika musim dingin berakhir dengan stok yang rendah.
Dalam peta pasokan pengganti, LNG menjadi tumpuan utama—dan LNG sangat bergantung pada pengiriman. “Cekungan Atlantik” merujuk pada jaringan pasokan dan rute pengiriman yang menghubungkan ekspor LNG AS dengan pembeli di Eropa, termasuk pemasok terdekat yang mampu mengalihkan kargo dengan cepat. Dengan ketergantungan yang meningkat pada jaringan ini, risiko pengiriman dan cuaca disebut lebih cepat tercermin pada harga.
Eropa diproyeksikan kembali mencetak rekor impor LNG. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan impor LNG Eropa pada 2026 mencapai 185 bcm, melampaui rekor 175 bcm pada 2025. Konsekuensi praktis dari kondisi ini adalah meningkatnya “risiko kedatangan”: bila perjalanan lebih panjang atau rute terganggu, kapasitas pengiriman efektif berkurang sementara, dan harga dapat mencerminkan risiko keterlambatan kargo, bukan sekadar ketersediaan pasokan di atas kertas.
Ketergantungan pada Amerika Serikat juga semakin menonjol. Pada Januari 2026, AS memasok 60% impor LNG Uni Eropa atau sekitar 5,36 juta ton, naik dari 53% pada tahun sebelumnya. Pada bulan yang sama, sekitar 19% LNG Uni Eropa masih berasal dari Rusia, sehingga masa transisi dan ketentuan kepatuhan menjadi faktor penting dalam dinamika pasokan.
Meski harga gas Eropa tidak berbasis pada patokan Henry Hub di AS, cuaca di AS tetap berpengaruh karena dapat mengubah volume LNG yang bisa diekspor serta biaya peluangnya. Saat arus ekspor stabil, Eropa memperoleh pasokan marginal lebih besar. Sebaliknya, ketika cuaca mengganggu produksi atau operasi LNG di AS, Eropa harus bersaing lebih ketat untuk mendapatkan kargo, yang dapat menaikkan biaya pengiriman dan memperbesar volatilitas.
Dampak cuaca tersebut tercermin pada pergerakan harga di AS pada awal tahun. Data EIA menunjukkan Henry Hub mencapai US$30,72 per MMBtu pada 23 Januari sebelum turun tajam menjadi US$3,25 per MMBtu pada 9 Februari. Laporan Prospek Energi Jangka Pendek EIA Februari mencatat perbedaan yang lebar pada harga kontrak berjangka: kontrak Februari ditutup pada US$7,46 pada 28 Januari, sementara kontrak Maret ditutup pada US$3,73—selisih terlebar antara kontrak bulan depan dan bulan berikutnya setidaknya sejak 2014. Selisih ini dinilai mencerminkan tekanan cuaca, di mana pasar memandang keketatan pasokan sebagai kondisi akut, bukan permanen.
Reuters juga melaporkan pembekuan musim dingin pada akhir Januari mengurangi produksi ekspor LNG AS, mendorong Eropa meningkatkan konsumsi LNG dari AS pada periode tersebut. Ke depan, tingkat penyimpanan di akhir musim dingin dan tren pada Maret akan menjadi penentu beban pengisian ulang musim panas serta sensitivitas volatilitas. Selain itu, pasar juga akan mencermati komposisi pengadaan LNG Uni Eropa tiap bulan, bentuk kurva harga Henry Hub, serta sinyal-sinyal pengiriman seperti pengalihan rute dan potensi hambatan di titik rawan.
Secara keseluruhan, penghentian ketergantungan Eropa pada gas Rusia kini memiliki kepastian hukum, tetapi berlangsung pada saat persediaan musim dingin rendah dan ketergantungan terhadap LNG meningkat. Konsekuensinya, Eropa menjadi lebih sensitif terhadap dinamika pengiriman di Cekungan Atlantik dan guncangan cuaca di AS dibandingkan periode sebelum peralihan dari gas pipa Rusia.

