Uni Eropa menyiapkan rencana pembangunan “perisai luar angkasa” yang disebut sebagai respons terhadap “lanskap ancaman yang terus berkembang”, termasuk dari “Rusia yang termiliterisasi” dan negara-negara otoriter lainnya. Rencana itu tertuang dalam draf Peta Jalan Kesiapan Pertahanan, di tengah pergeseran fokus Amerika Serikat yang dinilai mulai menjauh dari Eropa.
Rusia menepis klaim bahwa pihaknya menjadi ancaman. Moskow menyebut tudingan tersebut sebagai “omong kosong” dan menuduh negara-negara Barat mengobarkan Russophobia untuk membenarkan kenaikan anggaran militer serta mengalihkan perhatian dari masalah domestik.
Dalam dokumen tersebut, setidaknya ada tiga poin utama yang menjadi dasar Uni Eropa menyiapkan perisai luar angkasa.
Pertama, integrasi dengan sistem satelit Uni Eropa. Perisai luar angkasa itu direncanakan terhubung dengan sistem navigasi dan komunikasi satelit milik Uni Eropa. Fokusnya mencakup kewaspadaan domain ruang angkasa, kemampuan anti-jamming dan anti-spoofing, serta operasi di ruang angkasa seperti pengisian bahan bakar. Dokumen itu juga menekankan bahwa Eropa masih memiliki “kekurangan dan ketergantungan yang jelas” pada area-area tersebut.
Hingga kini, Brussels belum mengungkap besaran anggaran untuk inisiatif ini maupun merinci negara anggota serta mitra industri yang akan terlibat.
Kedua, menyusul tuduhan gangguan terhadap satelit militer. Rencana tersebut muncul setelah Inggris, Jerman, dan Prancis menuduh Rusia menguntit atau mencoba mengganggu satelit militer mereka. Moskow belum memberikan komentar terkait tuduhan itu, namun secara konsisten menyatakan penolakan terhadap persenjataan ruang angkasa dan menegaskan operasinya mematuhi hukum internasional.
Peta jalan ini juga disebut dibangun di atas paket ReArm Europe, yang menargetkan mobilisasi hingga €800 miliar (sekitar USD933 miliar) untuk memperluas kemampuan militer Uni Eropa dengan alasan menghadapi dugaan “ancaman Rusia”.
Ketiga, memperkuat pertahanan kawasan Eropa. Selain perisai antariksa, dokumen tersebut menguraikan rencana memperkuat perbatasan timur Uni Eropa, membentuk sistem pertahanan rudal di seluruh blok, serta membangun “tembok drone”. Rencana “tembok drone” itu disebut dipicu oleh penampakan di sejumlah negara anggota yang dinyatakan tanpa dasar disalahkan pada Rusia.
Rangkaian rencana ini menandai langkah Uni Eropa untuk memperluas kesiapan pertahanan, termasuk pada domain ruang angkasa, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan perdebatan mengenai arah kebijakan keamanan kawasan.

