BERITA TERKINI
Ultimatum Trump soal Selat Hormuz Tingkatkan Ketegangan dengan Iran, Rusia Serukan Diplomasi

Ultimatum Trump soal Selat Hormuz Tingkatkan Ketegangan dengan Iran, Rusia Serukan Diplomasi

JAKARTA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan ultimatum kepada Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Di tengah situasi yang dinilai kian eskalatif, Rusia mengambil sikap berbeda dengan mendorong penyelesaian melalui jalur politik dan diplomatik.

Ultimatum tersebut menargetkan Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi global, yang ditutup sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026 akibat serangan gabungan AS-Israel ke Iran. Trump memberi tenggat 48 jam agar jalur itu dibuka kembali. Jika tidak dipenuhi, ia mengancam akan “menghancurkan” infrastruktur listrik Iran, pernyataan yang memicu kekhawatiran meningkatnya risiko konflik terbuka.

Selat Hormuz memiliki peran penting dalam stabilitas energi dunia. Sekitar sepertiga distribusi minyak global melintasi perairan tersebut. Penutupan jalur ini memicu volatilitas harga energi serta kekhawatiran gangguan rantai pasok internasional, seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar.

Ancaman terhadap infrastruktur energi Iran dinilai tidak hanya berdampak di dalam negeri, tetapi juga berpotensi memperluas tekanan terhadap perekonomian global. Perkembangan ini kembali menegaskan bagaimana konflik regional dapat dengan cepat menimbulkan dampak lintas negara.

Di tengah memanasnya situasi, Kremlin melalui juru bicaranya Dmitry Peskov menegaskan bahwa pendekatan militer bukan solusi. Rusia menyatakan jalur diplomasi sebagai satu-satunya cara untuk meredakan eskalasi.

“Kami percaya situasi ini harus beralih ke penyelesaian politik dan diplomatik. Itu satu-satunya cara untuk meredakan ketegangan yang berkembang,” ujar Peskov dalam konferensi pers.

Pernyataan tersebut mencerminkan posisi Rusia yang memiliki kepentingan di Iran, termasuk keterlibatan dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Bushehr. Dalam perkembangan terkait, kekhawatiran Rusia tidak hanya menyangkut eskalasi militer, tetapi juga potensi dampak jangka panjang apabila fasilitas nuklir menjadi target serangan.

Pembangkit Bushehr dilaporkan sempat terkena proyektil selama konflik berlangsung. Peskov menilai serangan terhadap fasilitas nuklir dapat memicu konsekuensi serius yang bahkan tidak dapat dipulihkan. “Ini adalah ancaman keamanan yang sangat serius jika tren ini berlanjut,” katanya.

Rusia juga disebut terus berkoordinasi dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memantau kondisi fasilitas tersebut. Kepala IAEA Rafael Grossi turut menyerukan agar semua pihak menahan diri guna mencegah risiko kecelakaan nuklir di tengah konflik.

Situasi ini menempatkan kawasan pada persimpangan penting: meningkatnya tekanan militer dari AS berhadapan dengan dorongan Rusia dan lembaga internasional untuk de-eskalasi melalui diplomasi. Arah perkembangan dalam beberapa hari ke depan akan menentukan apakah ketegangan mereda melalui negosiasi atau meluas dengan konsekuensi global yang lebih besar.