Ukraina membantah tuduhan Rusia terkait dugaan serangan terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin, dengan menyebut klaim tersebut sebagai rekayasa yang tidak disertai bukti. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menilai tuduhan itu muncul sebagai reaksi Moskow atas perkembangan yang dinilainya positif dalam pembicaraan damai.
“Hampir sehari berlalu dan Rusia masih belum memberikan bukti masuk akal atas tuduhan serangan terhadap kediaman Putin,” kata Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha. “Mereka tidak akan memberikannya, karena memang tidak ada. Serangan itu tidak pernah terjadi.”
Meski dibantah Kyiv, sejumlah negara—termasuk India, Pakistan, Uni Emirat Arab, dan Uzbekistan—mengeluarkan pernyataan yang mengutuk atau menyatakan keprihatinan atas dugaan serangan tersebut. Zelenskiy mengkritik sikap India dan Uni Emirat Arab, dengan menyebut kedua negara itu gagal mengecam serangan rutin Rusia terhadap target sipil di Ukraina.
Isu ini mengemuka di tengah meningkatnya aktivitas diplomatik yang dipimpin Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang berupaya memenuhi janjinya untuk menyelesaikan invasi Rusia ke Ukraina segera setelah kembali menjabat. Zelenskiy baru saja mengunjungi resor Mar-a-Lago milik Trump di Florida pada Minggu. Meski belum ada terobosan nyata, Trump menyebut terdapat “banyak kemajuan”.
Dari pihak Rusia, Kremlin menyatakan Putin telah menelepon Trump dua kali, termasuk untuk menyampaikan keputusan Rusia merevisi posisi negosiasi mereka. Di saat yang sama, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menyampaikan nada optimistis, menyebut “perdamaian mulai terlihat di cakrawala untuk pertama kalinya sejak perang skala penuh ini dimulai.” Ia juga memuji “kesiapan AS untuk berpartisipasi dalam jaminan keamanan, termasuk kemungkinan penempatan pasukan AS di perbatasan atau garis kontak antara Ukraina dan Rusia.”
Ukraina menginginkan kehadiran pasukan di lapangan dan menyatakan sedang membahas isu tersebut dengan AS serta Koalisi Negara-Negara yang Bersedia. Namun, Zelenskiy menegaskan keputusan penempatan pasukan sepenuhnya berada di tangan masing-masing negara.
Zelenskiy, yang berdiri di samping Trump setelah pertemuan mereka pada Minggu, mengatakan kedua pihak “100% sepakat” mengenai jaminan keamanan AS-Ukraina, tanpa merinci detailnya. Pemerintahan Trump sebelumnya telah menyingkirkan kemungkinan kehadiran pasukan darat Amerika di Ukraina, dan Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Zelenskiy juga menyatakan akan “senang melihat” Trump mengunjungi Ukraina secara langsung. Menurutnya, kunjungan semacam itu akan menjadi sinyal kuat bahwa peluang gencatan senjata benar-benar ada.
Namun, perkembangan diplomasi ini dibayangi sikap keras Kremlin. Penolakan Putin untuk mundur dari tuntutan maksimal disebut mencakup penguasaan wilayah di timur Ukraina yang belum berhasil direbut secara militer. Dalam pertemuan yang disiarkan televisi dengan komando militer Rusia pada Senin, Putin memerintahkan pasukannya untuk terus memperluas pendudukan wilayah.
Sementara itu, pejabat Ukraina disebut tengah merevisi draf rencana 20 poin yang sebelumnya dinilai terlalu menguntungkan Rusia. Versi terbaru tetap berisi 20 poin, meski Moskow telah memperingatkan rencana tersebut memuat unsur-unsur yang tidak akan diterimanya, termasuk terkait ukuran militer Ukraina pascaperang.
Zelenskiy sebelumnya mengatakan Ukraina mengupayakan pertemuan dengan mitra-mitra Eropa dan Trump pada Januari, yang dapat dilanjutkan dengan pembahasan mengenai kemungkinan pertemuan dengan pejabat Rusia “dalam satu format atau lainnya.” Dalam unggahan di X, Zelenskiy menyebut para penasihat keamanan nasional dari negara-negara Koalisi Negara-Negara yang Bersedia diperkirakan bertemu pada 3 Januari di Ukraina, disusul pertemuan para pemimpin koalisi yang direncanakan berlangsung pada 6 Januari di Prancis. Pembicaraan antara para pemimpin AS, Ukraina, dan negara-negara koalisi juga disebut dapat menyusul pada bulan yang sama.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Senin menuduh Ukraina mencoba menyerang kediaman presiden dengan 91 drone, seraya menambahkan bahwa Rusia akan melakukan pembalasan dan target-targetnya telah ditentukan. Trump menanggapi dugaan serangan itu saat berbicara kepada wartawan di Florida pada Senin, mengatakan Putin telah menceritakannya dalam percakapan mereka. Presiden AS tersebut menyatakan dirinya “sangat marah.”
Zelenskiy kembali menyebut klaim Rusia sebagai “kebohongan baru” dan memperingatkan Moskow bisa menggunakan isu itu sebagai dalih untuk menyiapkan serangan terhadap gedung-gedung pemerintahan di Kyiv.
“Kami sedang mendorong proses perdamaian ke depan,” kata Merz setelah panggilan telepon para pemimpin Eropa dalam unggahan di X. “Transparansi dan kejujuran kini dibutuhkan dari semua pihak — termasuk Rusia.”

