Uni Eropa (UE) menyatakan akan mulai menolak pemberian visa multi-entri bagi warga Rusia. Kebijakan ini diumumkan pada Jumat, 7 November, di tengah meningkatnya kekhawatiran UE setelah hampir empat tahun perang di Ukraina.
Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Kaja Kallas, menyampaikan bahwa langkah tersebut sulit dihindari mengingat situasi yang terjadi. “Memulai perang dan berharap dapat bergerak bebas di Eropa sulit dibenarkan,” tulis Kallas melalui akun X pada Jumat, 7 November, sebagaimana dikutip dari AFP.
Menurut Kallas, UE memperketat aturan visa bagi warga negara Rusia di tengah gangguan serta dugaan sabotase drone yang berulang di wilayah Eropa. Pembatasan ini juga muncul seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap ancaman “perang hibrida” Rusia di UE, menyusul sejumlah insiden seperti penyusupan wilayah udara dan penampakan drone yang tidak dapat dijelaskan di berbagai negara.
UE menyatakan, dengan aturan baru ini warga negara Rusia harus mengajukan visa baru setiap kali berencana bepergian ke wilayah UE. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk memungkinkan pengawasan yang lebih ketat dan berkala terhadap pemohon, guna mengurangi potensi risiko keamanan.
Meski demikian, UE menyebut akan ada pengecualian dalam beberapa kasus, termasuk bagi jurnalis independen dan pembela hak asasi manusia.
Sebelumnya, UE juga telah memperketat kontrol perjalanan diplomat Rusia yang ditempatkan di 27 negara anggota melalui paket sanksi baru pada bulan lalu. Sejumlah negara anggota yang berhaluan keras telah lama mendorong pembatasan visa yang lebih ketat bagi warga Rusia, dengan alasan warga Rusia seharusnya tidak dapat bepergian bebas untuk tujuan wisata selama perang di Ukraina masih berlangsung.
Pada 2022, UE menangguhkan perjanjian fasilitasi visa dengan Rusia dan menginstruksikan negara-negara anggota untuk menurunkan prioritas pemrosesan visa bagi warga Rusia. UE mencatat jumlah visa yang dikeluarkan untuk warga Rusia turun dari lebih dari empat juta sebelum perang menjadi sekitar 500.000 pada 2023. Namun, para diplomat UE menyebut jumlah persetujuan visa mulai meningkat kembali.
Prancis, Spanyol, dan Italia—sebagai sejumlah tujuan wisata utama—termasuk di antara negara-negara yang disebut memberikan visa terbanyak.

