Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk menerapkan suku bunga negatif sebagai upaya mengelola utang pemerintah yang mencapai US$ 22 triliun. Permintaan ini disampaikan melalui akun Twitter pribadinya pada Rabu (11/9/2019) waktu setempat.
Namun, sejumlah pejabat The Fed menilai penerapan suku bunga negatif berpotensi menimbulkan risiko serius bagi perekonomian AS dan sebaiknya dihindari. Kebijakan ini memang belum pernah diterapkan di AS, berbeda dengan sejumlah negara lain yang mengadopsinya untuk menghadapi tantangan ekonomi tertentu.
Alasan Beberapa Bank Sentral Mengadopsi Suku Bunga Negatif
Setelah krisis keuangan global 2008 yang dipicu oleh kebangkrutan Lehman Brothers, banyak bank sentral memangkas suku bunga mendekati nol untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Namun, suku bunga rendah yang berlangsung lama mengurangi ruang gerak bank sentral untuk melakukan pelonggaran moneter lebih lanjut.
Sebagai langkah kebijakan tidak konvensional, beberapa bank sentral utama di dunia mulai menerapkan suku bunga negatif. Negara-negara yang telah melaksanakan kebijakan ini di antaranya adalah anggota zona euro, Swiss, Denmark, Swedia, dan Jepang. Kebijakan ini juga dipilih untuk mengendalikan penguatan mata uang yang berpotensi merugikan sektor ekspor.
Cara Kerja dan Dampak Suku Bunga Negatif
Suku bunga negatif berarti lembaga keuangan harus membayar bunga atas kelebihan cadangan yang disimpan di bank sentral, bukan menerima bunga seperti biasa. Tujuannya adalah mendorong bank dan lembaga keuangan agar lebih agresif menyalurkan kredit ke sektor riil dan mengurangi penimbunan uang tunai.
Bank Sentral Eropa (ECB) mulai menerapkan suku bunga negatif pada Juni 2014 dengan menurunkan suku bunga deposito menjadi -0,1%. Kebijakan ini bertujuan untuk merangsang aktivitas ekonomi di tengah perlambatan dan risiko ekonomi yang meningkat. Saat ini, suku bunga deposito ECB telah diturunkan menjadi -0,4% dan pasar memprediksi pemangkasan lebih lanjut akan dilakukan.
Sementara itu, Bank of Japan (BOJ) mengadopsi suku bunga negatif pada Januari 2016 untuk menahan penguatan yen yang dapat merugikan ekonomi berbasis ekspor Jepang. BOJ mengenakan bunga sebesar 0,1% untuk kelebihan cadangan bank di bank sentral tersebut.
Potensi Risiko Kebijakan Suku Bunga Negatif
- Mengurangi profitabilitas perbankan sehingga dapat melemahkan stabilitas sistem keuangan.
- Mendorong perilaku berisiko di sektor keuangan karena pencarian yield yang lebih tinggi.
- Memicu distorsi pasar yang sulit diprediksi dampaknya dalam jangka panjang.
- Menimbulkan tantangan bagi tabungan dan pendapatan pensiun yang bergantung pada bunga simpanan.
Meski kebijakan suku bunga negatif bisa menjadi alat untuk merangsang ekonomi dan mengelola utang, penerapannya memerlukan pertimbangan matang terkait potensi dampak negatif yang mungkin timbul. Di AS, The Fed sejauh ini memilih untuk menghindari kebijakan ini dengan alasan risiko yang dapat membahayakan stabilitas ekonomi nasional.