Di tengah situasi ekonomi yang kian menantang, tekanan biaya hidup mulai dirasakan banyak orang. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, serta berbagai pengeluaran lain membuat rumah tangga menghadapi beban yang lebih besar, sementara kemampuan menabung disebut semakin menurun.
Dalam tulisan opini bertajuk Dinamika Biaya Hidup dalam Tekanan Ekonomi, Vinsensius S.Fil., M.M., dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, menilai persoalan tidak hanya terletak pada kondisi ekonomi, tetapi juga pada cara masyarakat menyikapinya. Ia menyoroti kecenderungan sebagian orang mempertahankan pola hidup lama meski pengeluaran meningkat.
Menurutnya, perubahan ekonomi global, termasuk konflik di berbagai belahan dunia, berdampak pada Indonesia, terutama melalui kenaikan harga energi dan bahan pangan. Dampaknya, pengeluaran rumah tangga meningkat secara bertahap dan tidak selalu tampak ekstrem, namun dirasakan sebagai tekanan yang perlahan mempersempit ruang keuangan.
Di sisi lain, kebiasaan konsumsi seperti nongkrong, belanja, dan mengikuti tren disebut masih sering berjalan seperti biasa. Vinsensius menilai hal itu bukan sepenuhnya keliru, tetapi menjadi masalah ketika tidak disesuaikan dengan perubahan kondisi. Ketika pemasukan tetap sementara pengeluaran naik, ketidakseimbangan dinilai sulit dihindari.
Ia mendorong krisis menjadi momentum evaluasi, termasuk menilai apakah cara hidup masih relevan dengan keadaan saat ini. Dalam pandangannya, sikap hemat tidak semata soal besaran penghasilan, melainkan soal pengendalian diri dan kemampuan menentukan prioritas.
Vinsensius menekankan, ada orang berpenghasilan besar namun tetap kesulitan mengatur keuangan akibat gaya hidup yang tidak terkendali. Sebaliknya, mereka yang berpenghasilan sederhana bisa bertahan karena mampu mengelola pengeluaran. Tantangan tersebut, menurutnya, kian berat di era digital ketika media sosial menghadirkan beragam gaya hidup yang memicu perbandingan dan dorongan untuk mengikuti tren.
Ia juga menilai hemat bukan berarti meniadakan kenikmatan hidup, melainkan menetapkan batas dan membedakan kebutuhan yang benar-benar penting dari keinginan sesaat. Kemampuan mengendalikan pengeluaran disebut penting agar seseorang lebih siap menghadapi situasi sulit di tengah ketidakpastian ekonomi.
Selain penghematan, Vinsensius menyoroti pentingnya menabung sebagai langkah menghadapi ketidakpastian. Tabungan dinilai berfungsi sebagai perlindungan saat menghadapi kebutuhan darurat atau penurunan pendapatan, sehingga seseorang tidak harus langsung berutang.
Namun, ia mengingatkan menabung tidak cukup dilakukan dengan menyisihkan uang di akhir bulan. Menurutnya, cara yang lebih efektif adalah menjadikan tabungan sebagai prioritas sejak awal, yakni menyisihkan sebagian penghasilan segera setelah diterima. Ia menilai kesulitan menabung sering kali bukan semata karena penghasilan yang kecil, melainkan kebiasaan pengeluaran kecil yang berulang dan tidak disadari.
Pada bagian akhir, Vinsensius mengajak pembaca memaknai krisis sebagai kesempatan untuk belajar tentang kecukupan. Ia menilai dorongan untuk terus mengejar “lebih” tidak pernah selesai, sehingga kondisi sulit bisa menjadi momen untuk memahami batas, tidak selalu mengikuti standar orang lain, dan fokus pada kebutuhan yang penting.
Dalam konteks itu, hemat dan menabung dipandang bukan sekadar strategi keuangan, melainkan cara membangun hidup yang lebih stabil dan terarah. Ia menutup dengan gagasan bahwa krisis mungkin tidak bisa dihindari, tetapi sikap dalam menyikapinya dapat dipilih, termasuk dengan hidup lebih bijak menggunakan apa yang ada tanpa memaksakan diri untuk memiliki semuanya.