BERITA TERKINI
Studi Global Peace Index 2020: Timur Tengah-Afrika Utara Kembali Jadi Kawasan Paling Tidak Damai

Studi Global Peace Index 2020: Timur Tengah-Afrika Utara Kembali Jadi Kawasan Paling Tidak Damai

Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) tercatat sebagai wilayah paling tidak damai di dunia selama enam tahun terakhir. Kesimpulan itu disampaikan berdasarkan studi yang dilakukan Institute of Economics and Peace (IEP), organisasi yang berbasis di Australia.

Dalam laporan Global Peace Index (GPI) edisi 2020, lima dari 10 negara paling tidak damai di dunia disebut berasal dari kawasan MENA, yakni Sudan Selatan, Libya, Suriah, Irak, dan Yaman.

Pemetaan perdamaian di 163 negara

IEP merilis studi yang melacak dan memberi peringkat tingkat perdamaian di 163 negara dan teritori independen. Laporan tersebut juga mencatat wilayah-wilayah yang mengalami peningkatan atau penurunan konflik, serta faktor-faktor yang memengaruhi perubahan itu.

Dalam kawasan MENA, Suriah disebut sebagai negara paling tidak damai, baik di tingkat regional maupun secara keseluruhan dalam indeks global. Irak berada di posisi kedua di kawasan tersebut dan menempati peringkat ketiga secara global.

Arab Saudi tercatat berada pada peringkat 125. Sementara itu, Bahrain disebut mengalami peningkatan dalam posisi negara paling tidak damai di MENA, dengan lonjakan 4,8 persen. Di sisi lain, hanya tiga negara di kawasan tersebut—Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Qatar—yang masuk daftar 50 negara paling damai di dunia.

Eropa paling damai, Islandia di posisi teratas

Secara global, Eropa tetap menjadi wilayah paling damai, dengan Islandia berada di peringkat teratas sebagai negara paling damai di dunia. Meski demikian, laporan tersebut juga mencatat hampir setengah negara di Eropa mengalami penurunan status perdamaian sejak 2008.

Indikator GPI: lebih dari sekadar perang

GPI menilai tingkat damai atau tidaknya suatu negara tidak hanya berdasarkan keberadaan perang. Penilaian juga mencakup indikator kekerasan atau rasa takut, keselamatan dan keamanan, konflik yang terjadi, serta tingkat militerisasi.

IEP mencatat adanya penurunan pada aspek keselamatan dan keamanan, antara lain karena meningkatnya kemungkinan demonstrasi yang berujung kekerasan dan bertambahnya ketidakstabilan politik. Irak disebut menjadi salah satu contoh, dengan demonstrasi kekerasan yang terus menjadi perhatian dan memperoleh skor maksimum pada indikator terkait.

Laporan itu menyebut bahwa sejak protes merebak pada Oktober 2019, Irak mengalami lebih dari 700 kematian dan ribuan luka-luka parah akibat bentrokan antara demonstran anti-pemerintah dan pasukan keamanan.

Iran juga disebut mengalami kemunduran dalam indikator GPI, khususnya pada aspek keselamatan dan keamanan. Laporan tersebut menilai bahwa meski penurunan perdamaian global tidak terbatas pada satu wilayah atau negara, konflik di Timur Tengah menjadi salah satu pendorong utama merosotnya perdamaian dunia.

Mayoritas indikator MENA di bawah rata-rata

Serge Stroobants, direktur operasi untuk Eropa dan Timur Tengah-Afrika Utara di IEP, menyatakan bahwa dari 23 indikator yang digunakan di kawasan MENA, 19 di antaranya berada di bawah rata-rata. Ia juga menyoroti bahwa empat konflik utama dalam beberapa tahun terakhir berada di kawasan tersebut, yakni di Libya, Suriah, Irak, dan Yaman.

Ada perbaikan di sejumlah aspek

Di tengah konflik bersenjata dan ketidakstabilan yang berlangsung, laporan itu mencatat adanya perbaikan pada beberapa indikator, termasuk jumlah kematian akibat konflik internal, intensitas konflik internal, serta impor dan ekspor senjata.

Arab Saudi disebut naik lima peringkat dalam indeks sejak 2008. Namun, faktor keselamatan dan keamanan internal menjadi satu-satunya domain indikator yang mengalami penurunan pada tahun terakhir yang dinilai. Stroobants mengaitkan hal itu dengan jumlah pengungsi dan pengungsi internal di kawasan, serta tingkat teror politik. Ia juga menyebut indikator lain yang menurun pada tahun lalu adalah jumlah pertempuran konflik eksternal dan internal, yang dinilai mencerminkan munculnya konflik internal dan dampaknya terhadap arus pengungsi.

Suriah juga disebut mengalami sedikit peningkatan seiring berkurangnya intensitas perang saudara dan kekacauan. Laporan itu menyebut kesepakatan gencatan senjata antara pasukan pemerintah dan oposisi pada Maret dilaporkan memungkinkan sekitar 35.000 warga sipil yang terlantar kembali ke rumah mereka di Idlib.

Pandemi COVID-19 dan ketidakstabilan global

Laporan studi terbaru juga menyoroti krisis yang dipicu pandemi COVID-19 sebagai faktor penting yang mendorong ketidakstabilan global. Dampak wabah ini dinilai menghambat pembangunan sosial ekonomi yang telah berlangsung bertahun-tahun, memperburuk krisis kemanusiaan, serta memperuncing konflik.

Theodore Karasik dari Gulf State Analytics di Washington, AS, menilai pandemi menjadi pendorong utama ketidakstabilan karena pengaruhnya terhadap interaksi, perdagangan, dan politik. Menurutnya, di Timur Tengah pola penanganan pandemi relatif serupa, terutama terkait pembatasan aktivitas, pengujian, dan perawatan.

Karasik juga menyebut temuan GPI berpotensi menunjukkan gambaran yang sangat berbeda pada tahun berikutnya, seiring kawasan tersebut masih berjuang menghadapi virus dan dampak jangka panjangnya.