Novel anak Na Willa karya Reda Gaudiamo kembali ramai dibicarakan setelah sutradara film Jumbo, Ryan Adriandhy, mengumumkan rencana mengangkat kisah tersebut ke layar lebar pada bulan puasa mendatang. Pengumuman itu disambut hangat pembaca yang telah mengikuti cerita Na Willa, sekaligus memicu minat pembaca lain untuk menuntaskan novelnya sebelum film dirilis.
Antusiasme tersebut turut mendorong pembaca mencari buku Na Willa, baik dengan membeli maupun meminjam dari perpustakaan. Salah satu seri yang sempat tersedia untuk dipinjam adalah seri kedua berjudul Na Willa dan Rumah dalam Gang (2018).
Dalam seri kedua ini, Reda Gaudiamo menampilkan keseharian tokoh utama, Na Willa—akrab disapa Willa—melalui cerita-cerita sederhana tentang rutinitas sekolah, bermain, berjalan-jalan, hingga menikmati camilan kesukaannya. Kesederhanaan tersebut justru menjadi daya tarik karena menghadirkan kehangatan dan rasa familier, terutama bagi pembaca yang sudah melewati masa kanak-kanak.
Sejumlah peristiwa yang dituturkan terasa dekat dengan pengalaman banyak anak. Salah satunya ketika Willa penasaran ingin berdandan seperti orang dewasa setelah melihat temannya memakai bedak wangi saat berangkat sekolah. Ia pun mencoba bedak milik ibunya, meski kemudian berujung dimarahi. Penggalan kisah semacam ini menggambarkan rasa ingin tahu anak terhadap kebiasaan orang dewasa di sekitarnya.
Meski berangkat dari kejadian sehari-hari, seri kedua ini tetap memuat konflik. Reda Gaudiamo menyajikannya dengan cara yang halus sehingga tidak terasa terlalu berat untuk pembaca anak. Konflik utama muncul saat Willa dan kedua orang tuanya pindah dari rumah yang lebih luas di Surabaya ke rumah petakan di Jakarta. Perpindahan itu membuat Willa sedih dan bingung karena harus meninggalkan sekolah serta teman-temannya.
Situasi bertambah sulit ketika keluarga tersebut tiba di Jakarta dan Willa harus menghabiskan hari-harinya di rumah karena menunggu tahun ajaran baru untuk bisa kembali bersekolah. Kondisi ini menyoroti posisi anak yang kerap tidak memiliki kuasa atas keputusan orang tua, sekalipun keputusan itu berdampak besar pada kehidupan sehari-hari mereka.
Secara keseluruhan, Na Willa dan Rumah dalam Gang menawarkan cerita hangat yang dapat mengundang nostalgia bagi pembaca dewasa, sekaligus tetap relevan bagi pembaca anak. Bahasa yang digunakan ditulis sederhana, dengan paragraf yang tidak panjang, sehingga mudah diikuti. Buku ini juga melibatkan ilustrator lokal untuk menggambar tokoh dan teman-teman Willa, membantu pembaca membangun imajinasi saat mengikuti cerita.
Namun, akhir kisah dibuat dengan kesan menyisakan pertanyaan. Hal itu sejalan dengan fakta bahwa seri Na Willa telah terbit hingga tiga seri sejauh ini, sehingga penutupnya terasa seperti mengantar pembaca pada kelanjutan cerita.

