Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menilai sejumlah pejabat Uni Eropa (UE) mengalihkan fokus ke protes di Iran untuk mengalihkan perhatian publik dari klaim Amerika Serikat (AS) atas Greenland.
Dalam pernyataannya pada Rabu kepada stasiun radio Sputnik, Zakharova mempertanyakan mengapa UE tidak memusatkan perhatian pada isu Greenland. Ia menyebut situasi di Iran bisa menjadi “dalih yang nyaman” bagi pejabat UE untuk mengalihkan perhatian masyarakat mereka dari isu pulau tersebut.
Zakharova mengatakan isu Greenland semestinya menjadi perhatian utama Brussel, meski menurutnya hal itu tidak terjadi saat ini. Ia juga memberikan saran bernada ironis agar para pejabat UE mengingat kembali reaksi mereka terhadap peristiwa di Krimea pada 2014. Menurutnya, pernyataan-pernyataan UE saat itu dapat “berguna” untuk membangkitkan semangat mereka dalam menyikapi topik Greenland.
Selain itu, Zakharova menyarankan para pejabat UE bertanya pada diri sendiri mengapa situasi di negara lain lebih menjadi perhatian mereka dibanding situasi di negara-negara anggota UE.
Krimea dimasukkan ke dalam Rusia pada 2014 setelah kudeta di Kiev, setelah 96,77 persen penduduk semenanjung itu memilih mendukung langkah tersebut dalam sebuah referendum.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan Greenland seharusnya menjadi bagian dari AS. Ia beralasan pulau tersebut penting secara strategis bagi keamanan nasional dan pertahanan “dunia bebas,” termasuk dari China dan Rusia.
Otoritas Denmark dan Greenland telah memperingatkan AS agar tidak merebut pulau itu, seraya menyatakan harapan agar integritas teritorial mereka dihormati.
Greenland merupakan koloni Denmark hingga 1953. Pulau itu tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark setelah memperoleh otonomi pada 2009, dengan kemampuan mengatur diri sendiri serta menentukan kebijakan dalam negeri.

