BERITA TERKINI
Rusia Nilai Kesepakatan Tarif 15% AS-Uni Eropa Dorong Deindustrialisasi Eropa

Rusia Nilai Kesepakatan Tarif 15% AS-Uni Eropa Dorong Deindustrialisasi Eropa

Pemerintah Rusia mengomentari kesepakatan tarif 15% yang diterapkan Amerika Serikat (AS) terhadap sebagian besar barang ekspor Uni Eropa. Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam forum “Territory of Meanings”, Senin (28/7/2025).

Lavrov menilai pengaturan tarif tersebut “jelas mengarah pada deindustrialisasi lebih lanjut di Eropa dan pelarian modal”. Ia juga menyebut kenaikan harga energi serta arus keluar investasi berpotensi memberikan “pukulan yang sangat keras” bagi sektor industri dan pertanian di Eropa.

Dalam pernyataannya, Lavrov turut mengkritik sikap Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Menurutnya, meski kesepakatan ini dinilai merugikan Eropa, von der Leyen tetap memprioritaskan perbaikan hubungan dengan Washington dengan tujuan mengalahkan Rusia.

“Orang-orang seperti Ursula von der Leyen benar-benar bangga dengan jalan ini: ya, kita akan dipaksa untuk menghabiskan lebih banyak uang, ya, kita mungkin akan memiliki lebih sedikit sumber daya untuk mengatasi masalah sosial, tetapi kita wajib mengalahkan Rusia,” kata Lavrov, dikutip Russia Today. Ia menambahkan, kesepakatan tersebut “jelas merugikan Benua Lama”.

Sehari sebelumnya, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden AS Donald Trump menyelesaikan kesepakatan yang disebut kontroversial dan diklaim memungkinkan kedua pihak menghindari perang dagang skala penuh. Dalam kesepakatan itu, AS menurunkan tarif yang semula diusulkan 30% menjadi 15% untuk sebagian besar ekspor Eropa.

Uni Eropa juga berkomitmen membeli energi AS senilai US$ 750 miliar (Rp 12.305 triliun), terutama gas alam cair dan bahan bakar nuklir. Selain itu, Brussels disebut menyepakati rencana investasi sekitar US$ 600 miliar (Rp 9/843 triliun) ke industri-industri AS, serta meningkatkan impor senjata buatan AS.

Penilaian Lavrov sejalan dengan kritik sejumlah politisi dan kalangan bisnis di Eropa. Marine Le Pen, tokoh kunci partai sayap kanan Reli Nasional Prancis, mengecam perjanjian tersebut sebagai “kegagalan politik, ekonomi, dan moral” yang dinilai merugikan kedaulatan Uni Eropa.

Perdana Menteri Prancis Francois Bayrou juga menyatakan kesepakatan itu membawa kerugian bagi Uni Eropa dan menyebutnya sebagai “hari yang gelap”.

Dari kalangan industri, para pemimpin bisnis Jerman menyuarakan kekhawatiran atas dampak tarif tersebut. Wolfgang Niedermark, anggota dewan eksekutif Federasi Industri Jerman (BDI), mengatakan Uni Eropa telah mengirimkan “sinyal fatal” dengan menerima tarif tinggi. Menurutnya, bahkan tarif 15% sekalipun dapat berdampak negatif besar terhadap industri Jerman yang berorientasi ekspor.