BERITA TERKINI
Rupiah Sentuh Rp17.529 per Dolar AS, Disebut Jadi Mata Uang Terlemah Kelima Dunia pada Mei 2026

Rupiah Sentuh Rp17.529 per Dolar AS, Disebut Jadi Mata Uang Terlemah Kelima Dunia pada Mei 2026

Nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada perdagangan pagi Selasa (12/5/2026), mencapai kisaran Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) dan ditutup di Rp17.529 per dolar AS. Pada Mei 2026, rupiah juga disebut menjadi mata uang terlemah kelima di dunia.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global yang dipicu ketidakpastian ekonomi internasional, serta gejolak harga energi dan komoditas. Kondisi tersebut turut menekan mata uang di berbagai negara, terutama di kawasan Asia.

Tekanan pada rupiah memunculkan kekhawatiran di dalam negeri terkait potensi kenaikan inflasi dan biaya impor. Dampaknya dikhawatirkan terasa pada sektor usaha yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri dan transaksi berbasis mata uang asing. Sejumlah analis memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut dalam jangka pendek selama ketidakpastian ekonomi global belum mereda.

Tiffani Safinia dari Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) menilai penguatan dolar AS masih ditopang oleh ekspektasi suku bunga tinggi bank sentral AS (The Fed) yang bertahan lebih lama, meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia yang menambah tekanan terhadap rupiah.

Tekanan juga dialami mata uang negara lain seperti India, Filipina, Korea Selatan, Thailand, dan Malaysia. Mitul Kotecha dari Barclays menyebut bank sentral cenderung enggan menjual cadangan devisa, sehingga langkah-langkah lain yang lebih kreatif berpotensi ditempuh untuk mendukung mata uang masing-masing.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah disebut turut memengaruhi stabilitas pasar valuta asing global, termasuk Asia yang dinilai rentan terhadap gangguan pasokan energi. Sekitar 80% perdagangan minyak yang melalui Selat Hormuz diperkirakan mengarah ke Asia, menjadi perhatian bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia. Situasi ini menambah tekanan pada sektor pangan dan energi global serta memicu kenaikan inflasi di berbagai negara.