BERITA TERKINI
Rupiah Menguat ke Rp 16.802 per Dolar AS, Sentimen Diplomasi AS-Iran Menopang

Rupiah Menguat ke Rp 16.802 per Dolar AS, Sentimen Diplomasi AS-Iran Menopang

Nilai tukar rupiah menguat pada awal pekan. Pada perdagangan Senin (23/2/2026), rupiah ditutup di level Rp 16.802 per dolar AS, naik 86 poin dari penutupan sebelumnya di Rp 16.888.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut rupiah sempat menguat lebih jauh hingga 90 poin sebelum akhirnya ditutup di level tersebut. Penguatan terjadi di tengah harapan meredanya ketegangan terkait isu nuklir antara Amerika Serikat dan Iran, meski pasar global masih dibayangi ketidakpastian kebijakan tarif impor baru dari Presiden AS Donald Trump.

Menurut Ibrahim, pasar mencermati putaran ketiga pembicaraan nuklir AS-Iran yang dijadwalkan berlangsung Kamis di Jenewa. Harapan terhadap jalur diplomatik menguat setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan kepada program “Face the Nation” CBS pada Minggu (22/2/2026) bahwa ada peluang bagus untuk mencapai solusi diplomatik dan solusi tersebut dinilai berada dalam jangkauan.

Di sisi lain, sentimen global juga dipengaruhi rencana kebijakan tarif impor AS. Presiden Trump pada akhir pekan sebelumnya menyatakan akan mengenakan tarif 10% terhadap impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 undang-undang perdagangan AS, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan rezim tarif sebelumnya yang lebih luas. Pemerintah AS kemudian menaikkan tarif menjadi 15%, batas maksimum yang diizinkan aturan tersebut, sehingga memunculkan kekhawatiran terkait potensi aksi balasan dan gangguan rantai pasok global.

Ibrahim menilai ketidakpastian mengenai durasi dan cakupan tarif, termasuk kemungkinan tantangan hukum dan kongres, turut menambah volatilitas pasar.

Dari Amerika Serikat, rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV tahun lalu juga disebut melemah dari 4,4% menjadi 1,4% secara tahunan (YoY), yang dikaitkan dengan penutupan pemerintah AS selama 43 hari. Sementara itu, data PCE inti terbaru memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS berpeluang menahan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. PCE inti tahunan naik menjadi 3,0% dari 2,8%, masih di atas target 2% Federal Reserve.

Di dalam negeri, Kementerian Keuangan mencatat APBN mengalami defisit Rp 54,6 triliun per akhir Januari 2026 atau setara 0,21% dari PDB. Pendapatan negara tercatat Rp 172,7 triliun hingga Januari 2026, setara 5,5% dari target pendapatan tahun ini sebesar Rp 3.153,6 triliun.

Belanja negara pada periode yang sama mencapai Rp 227,3 triliun atau 5,9% dari target belanja 2026 sebesar Rp 3.842,7 triliun. Dengan belanja yang lebih besar dibanding pendapatan, defisit APBN tercatat Rp 54,6 triliun. Ibrahim menyebut angka tersebut masih terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026.

Selain itu, defisit keseimbangan primer tercatat Rp 4,2 triliun, sementara target keseimbangan primer didesain defisit Rp 89,7 triliun. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, defisit APBN disebut mengalami kenaikan.