Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki pekan ini masih dibayangi ketidakpastian. Di tengah sentimen global yang berubah-ubah, pasar saham Indonesia diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tertekan.
Pengamat pasar modal Hans Kwee menilai faktor eksternal masih menjadi pendorong utama arah indeks, mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga global, hingga pelemahan nilai tukar rupiah. “IHSG berpotensi bergerak konsolidatif dengan kecenderungan melemah, dengan area support di kisaran 7.575 hingga 7.308,” ujarnya, Minggu (19/4).
Optimisme sempat muncul ketika Iran membuka kembali Selat Hormuz selama 10 hari. Kebijakan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan energi global, sehingga ikut mendorong penguatan bursa saham dunia. Di Wall Street, indeks utama mencatat rekor penutupan tertinggi seiring meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mulai menurunkan suku bunga pada akhir tahun.
Meski demikian, sentimen positif tersebut dinilai belum sepenuhnya solid. Pemulihan pasokan energi global diperkirakan tidak berlangsung cepat. Produksi minyak di kawasan Timur Tengah disebut dapat membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk kembali normal, sehingga tetap menjadi faktor yang membayangi stabilitas pasar.
Dari dalam negeri, tekanan turut datang dari pelemahan rupiah di tengah kuatnya data ekonomi Amerika Serikat. Pada saat yang sama, revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh International Monetary Fund (IMF) dan World Bank ikut menekan sentimen investor.
Risiko tambahan juga masih mengintai. Jika Iran kembali menutup Selat Hormuz, tekanan terhadap rupiah berpotensi bertambah dan dapat memperberat pergerakan IHSG pada awal pekan.