Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai mulai mengubah cara konflik geopolitik dipahami. Konflik tidak lagi semata ditentukan oleh keunggulan persenjataan, melainkan oleh penguasaan fondasi teknologi yang menopang kekuatan global. Dalam pandangan ini, ketegangan di berbagai kawasan dipandang sebagai perebutan posisi strategis: siapa yang menguasai energi dan siapa yang mengendalikan teknologi.
Sejumlah pengamat menilai eskalasi konflik global bergerak menuju kompetisi penguasaan sumber daya strategis yang menjadi penopang perkembangan AI. Dua fondasi utama yang disebut menentukan kompetisi tersebut adalah energi dan semikonduktor. Energi dibutuhkan untuk menggerakkan infrastruktur digital dan industri global, sementara semikonduktor menjadi komponen inti dalam pengembangan AI.
Produksi semikonduktor canggih disebut masih sangat terkonsentrasi di Taiwan. Disebutkan, lebih dari 90% chip AI paling canggih diproduksi oleh perusahaan seperti TSMC. Karena itu, konflik di Timur Tengah dan ketegangan di Taiwan dipandang tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dalam dinamika yang sama: perebutan kendali atas energi dan teknologi yang akan memengaruhi arah kekuatan dunia di era AI.
Dalam pembahasan AI, Big Data juga menjadi elemen yang tidak terpisahkan. Big Data digambarkan sebagai “makanan” bagi AI, sementara tanpa AI, data dalam skala besar hanya menjadi kumpulan data mentah yang sulit dimanfaatkan. Skala data global pun terus bertambah. Laporan International Data Corporation menyebut volume data global pada 2018 mencapai 33 zetabyte dan diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 175 zetabyte pada 2025. Disebutkan pula, lebih dari 90% data dunia saat ini dihasilkan hanya dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan cepatnya pertumbuhan ekosistem data digital.
Big Data dalam konteks ini mencakup beragam informasi, mulai dari citra satelit, peta topografis, hingga peta hidrografi suatu negara. Jika AI didukung data pertahanan yang komprehensif, seperti spesifikasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan kondisi geografis wilayah, hal itu dinilai dapat menjadi keunggulan strategis untuk memahami dan memetakan sistem pertahanan suatu negara. AI juga disebut dapat membantu memprediksi dampak pertempuran serta potensi kerugian yang mungkin dialami.
Dampak perang yang paling nyata disebut terjadi pada perekonomian. Gangguan stabilitas kawasan tidak hanya memengaruhi keamanan, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok global, memicu fluktuasi harga energi, dan menekan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, kemenangan dalam perang modern dipandang bukan hanya soal penaklukan militer, tetapi juga bagaimana mengelola dampak dan risiko setelah konflik terjadi.
Dalam kerangka ini, sumber daya strategis yang memungkinkan AI tetap beroperasi menjadi kunci. Konflik global saat ini dipandang tidak hanya berkaitan dengan dominasi militer atau politik, tetapi juga mencerminkan perebutan atas sumber daya kunci seperti energi dan semikonduktor yang menjadi fondasi perlombaan teknologi.
Dinamika di Timur Tengah menjadi salah satu contoh yang disebut menggambarkan perebutan sumber daya strategis. Kebutuhan minyak global saat ini disebut mencapai 100 juta barel per hari dan meningkat signifikan sejak 1970. Gangguan pasokan sebesar 1–2 juta barel per hari dinilai dapat berdampak besar pada harga minyak global. Iran disebut menyumbang sekitar 3–4,5% dari kebutuhan global dan memiliki cadangan minyak 208 miliar barel, sehingga dipandang memiliki kapasitas untuk memengaruhi stabilitas pasar minyak dunia.
Dalam analisis yang menggunakan pendekatan realisme dalam ilmu Hubungan Internasional, negara dipandang bertindak untuk mempertahankan kepentingan nasional dan kekuasaan dalam sistem internasional yang anarkis. Penguasaan sumber daya strategis dinilai menjadi bagian dari upaya mempertahankan dominasi. Konsep geopolitik energi juga menekankan bahwa distribusi kontrol atas sumber daya energi berperan penting dalam menentukan konfigurasi kekuatan global.
Selain Timur Tengah, ketegangan di Taiwan juga disebut sebagai “konflik dingin” yang terkait dengan posisi strategis semikonduktor. Taiwan dipandang sebagai pusat pembuatan chip dunia yang menjadi fondasi teknologi modern dan AI. Dalam konteks ini, China disebut berupaya menguasai Taiwan, sementara Amerika Serikat berupaya agar Taiwan tidak jatuh ke China. Jika eskalasi konflik di Timur Tengah bergeser ke Asia Timur, terdapat potensi terganggunya distribusi dan kontrol teknologi global.
Di tengah dinamika perebutan energi dan teknologi tersebut, posisi Indonesia dinilai belum sepenuhnya terkonsolidasi sebagai kekuatan strategis. Indonesia disebut memiliki sumber daya yang penting bagi teknologi masa depan, termasuk penguasaan sekitar 40% cadangan nikel dunia dan status sebagai produsen terbesar global. Posisi ini menjadikan Indonesia bagian penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik, yang disebut sebagai komponen kunci transisi energi dan perkembangan teknologi modern.
Namun, kondisi tersebut dinilai belum berbanding lurus dengan tingkat kemandirian nasional. Kebutuhan minyak Indonesia disebut mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Kesenjangan itu membuat Indonesia bergantung pada impor, dengan nilai yang disebut menembus lebih dari US$30 miliar per tahun. Situasi ini menunjukkan dinamika global dapat memengaruhi stabilitas energi nasional di luar kendali domestik.
Ketergantungan juga terlihat di sektor teknologi. Indonesia disebut belum memiliki kapasitas produksi semikonduktor canggih dan masih bergantung pada negara lain dalam pengembangan infrastruktur digital serta AI. Dalam konteks ini, Ray Frederick Djajadinata menekankan pentingnya memahami siapa aktor di balik pengembangan AI karena kontrol atas teknologi tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan nasional. Sementara itu, Pandu Wisaksono Sastrowardoyo mendorong agar Indonesia tidak berhenti sebagai penyedia sumber daya, melainkan bertransformasi menjadi aktor yang memiliki peran dalam kompetisi global.
Dalam gambaran lain, dinamika konflik global disebut menyerupai “vortex” atau pusaran besar yang menarik berbagai negara ke dalam arusnya. Indonesia dinilai belum berada di pusat pusaran, melainkan masih berada pada lapisan yang terdampak dan belum menentukan arah. Tantangan utama disebut bukan pada ketersediaan sumber daya alam, melainkan pada kemampuan sumber daya manusia untuk mengolah dan mengendalikannya menjadi kekuatan strategis, serta pada political will pemerintah dalam menentukan posisi Indonesia ke depan.
Catatan: Tulisan ini merupakan rangkuman dari opini penulis sebagaimana tercantum dalam naskah asli, termasuk pandangan dan penekanan yang disampaikan.