BERITA TERKINI
Ribuan Pengunjung Padati Kebun Binatang Ueno, Ucapkan Selamat Tinggal kepada Dua Panda Terakhir di Jepang

Ribuan Pengunjung Padati Kebun Binatang Ueno, Ucapkan Selamat Tinggal kepada Dua Panda Terakhir di Jepang

Kebun Binatang Ueno di Tokyo dipadati ribuan pengunjung yang datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada sepasang panda raksasa kembar, Xiao Xiao dan Lei Lei. Dua panda tersebut dijadwalkan meninggalkan Jepang dan kembali ke Cina pada 27 Januari 2026. Kepergian keduanya menandai berakhirnya keberadaan panda raksasa di Jepang, karena Xiao Xiao dan Lei Lei merupakan dua panda terakhir di negara itu.

Pada hari terakhir penampilan publik mereka, tidak semua pengunjung dapat menyaksikan langsung si kembar. Sekitar 4.400 orang mendapat kesempatan melihat Xiao Xiao dan Lei Lei melalui sistem undian, sementara jumlah pendaftar disebut mencapai 25 kali lipat dari kuota yang tersedia. Para pengunjung yang terpilih merekam video dan mengambil foto saat kedua panda terlihat mengunyah bambu dan berjalan-jalan seperti biasa.

Seorang warga Tokyo berusia 50-an mengatakan ia bersyukur dapat melihat kedua panda saat sedang makan. Menurutnya, hewan-hewan tersebut telah membawa banyak kebahagiaan. Sementara itu, seorang perempuan yang datang dari Prefektur Chiba bersama putrinya yang berusia dua tahun mengaku senang anaknya sempat melihat panda sebelum keduanya pergi. Ia juga berharap panda raksasa dapat kembali lagi ke Jepang.

Xiao Xiao dan Lei Lei kini berusia empat tahun. Keduanya lahir pada 2021 di Kebun Binatang Ueno dari induk betina Shin Shin dan induk jantan Ri Ri. Kedua induknya telah dikembalikan ke Cina pada 2024, setahun setelah saudara kembar mereka, Xiang Xiang, juga dikembalikan.

Kepergian Xiao Xiao dan Lei Lei membuat Jepang untuk pertama kalinya tidak memiliki panda dalam lebih dari lima dekade. Jepang menerima panda pertamanya pada 1972, yang saat itu disebut sebagai penanda normalisasi hubungan diplomatik dengan Cina. Dalam perkembangannya, isu panda juga kerap dikaitkan dengan dinamika hubungan kedua negara, termasuk ketika hubungan memanas setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang mengisyaratkan invasi Cina ke Taiwan dapat memicu respons militer dari negaranya.