BERITA TERKINI
Ribuan Burung Migran dari Belahan Bumi Utara Singgah di Kediri hingga Pesisir Trenggalek

Ribuan Burung Migran dari Belahan Bumi Utara Singgah di Kediri hingga Pesisir Trenggalek

Ribuan burung migran dari belahan bumi utara dilaporkan terlihat di hamparan persawahan wilayah Kediri, Tulungagung, hingga pesisir Trenggalek. Kehadiran kawanan burung ini merupakan bagian dari migrasi tahunan untuk menghindari musim dingin ekstrem di habitat asalnya.

Di tengah kemunculan anggapan di sebagian masyarakat bahwa burung-burung tersebut merupakan hama atau parasit, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur menegaskan sebaliknya. Burung migran justru dinilai membawa manfaat ekologis bagi lahan pertanian.

Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, BKSDA Jawa Timur, Ahmad David Kurnia Putra, menyatakan kawanan burung itu tidak mengganggu tanaman padi. Menurutnya, burung-burung tersebut berperan sebagai predator alami bagi hama serangga di area persawahan.

“Makanannya berupa serangga dan cacing kecil di area persawahan. Tidak ada kompetisi makanan dengan spesies lokal. Jadi, mereka justru membantu menjaga keseimbangan ekosistem sawah,” ujarnya, Sabtu (24/1/2026).

Migrasi burung di wilayah tersebut disebut sebagai siklus rutin yang berlangsung pada Oktober hingga Maret setiap tahun. Berdasarkan pengamatan BKSDA bersama Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UIN SATU Tulungagung, sedikitnya ada tujuh jenis burung yang teridentifikasi, antara lain Cerek Kalung Kecil (Charadrius dubius), Terik Asia (Glareola maldivarum), Kicuit Kerbau (Motacilla tschutschensis), Trinil Semak (Tringa glareola), Layang-layang Asia (Hirundo rustica), dan Cerek Kernyut (Pluvialis fulva).

Ahmad David menambahkan, jumlah burung yang singgah dapat mencapai ribuan individu dalam satu lokasi. Ia menyebut, di satu petak sawah di Desa Jatimulyo, Tulungagung, pihaknya pernah menghitung sekitar 5.000 individu Burung Terik Asia. Jumlah itu disebut baru dari satu titik pengamatan, belum termasuk sebaran di wilayah lain hingga Kediri.

BKSDA juga mengajak masyarakat untuk menyambut kedatangan burung migran tersebut dengan cara yang tidak merusak. Ahmad David meminta warga, khususnya pemburu, agar tidak melakukan perburuan terhadap burung-burung yang singgah setelah menempuh perjalanan jauh melintasi benua.

“Sudah jauh-jauh dari luar negeri datang ke tempat kita, mari kita sambut dengan baik. Cukup dinikmati, difoto untuk dokumentasi, atau dicatat sebagai data ilmiah. Jangan diburu,” katanya.

Ke depan, kegiatan pengamatan burung atau bird walk direncanakan menjadi agenda tahunan di Tulungagung. BKSDA juga menyosialisasikan Asian Waterbird Census (AWC), gerakan internasional untuk memantau populasi burung air. Masyarakat diajak terlibat dalam pendataan dan pemantauan jenis burung yang singgah di kawasan Trenggalek, Tulungagung, hingga Kediri, yang selanjutnya akan dilaporkan sebagai bagian dari upaya konservasi global.