BERITA TERKINI
Reza Pahlavi Tawarkan Diri Pimpin Transisi Iran, Minta Barat Dukung Perubahan Rezim

Reza Pahlavi Tawarkan Diri Pimpin Transisi Iran, Minta Barat Dukung Perubahan Rezim

Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran yang hidup di pengasingan sejak Revolusi 1979, menyatakan kesiapan untuk menjadi pemimpin sementara guna mengambil alih kekuasaan dari pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dalam pernyataannya, Pahlavi juga meminta negara-negara Barat memberikan dukungan penuh terhadap perubahan rezim di Teheran.

Dalam wawancara di Paris, Prancis, pada Senin (23/6), Pahlavi mengimbau komunitas internasional membantu rakyat Iran menggulingkan Khamenei dan pemerintahan yang ia sebut sebagai kediktatoran keagamaan. Ia menilai diperlukan tindakan militer untuk menyingkirkan aparatus yang menopang rezim, disertai langkah-langkah praktis untuk mendukung kelompok oposisi, termasuk akses internet dan komunikasi yang lebih baik serta dorongan untuk aksi massa berskala besar.

“Saya ada di sini pada hari ini untuk menyerahkan diri kepada rekan-rekan senegara saya untuk memimpin mereka di jalan perdamaian,” kata Pahlavi dalam konferensi pers di Paris. Ia juga menyerukan persatuan untuk membangun “Iran yang baru”.

Pahlavi, yang kini berusia 64 tahun, telah menghabiskan 46 tahun terakhir di luar Iran setelah monarki digulingkan pada 1979. Pemerintahan Shah kala itu dikenal memiliki polisi keamanan negara yang ditakuti, dan Pahlavi disebut menuai kritik dari sebagian aktivis oposisi yang tidak menginginkan kembalinya monarki. Meski demikian, ia tetap memiliki basis pendukung di dalam dan di luar Iran, serta selama beberapa dekade mengadvokasi perubahan rezim di Teheran.

Menurut Pahlavi, situasi saat ini menjadi peluang terbaik baginya untuk mewujudkan tujuan tersebut. Ia menyinggung perang udara antara Iran dan Israel yang berlangsung sejak 13 Juni, serta keterlibatan Amerika Serikat yang mengebom fasilitas nuklir Teheran pada akhir pekan, yang dinilainya memperbesar kekacauan di negara tersebut.

Meski perubahan rezim bukan tujuan resmi Israel maupun Amerika Serikat, Pahlavi menilai aksi militer dapat mendorong pemerintahan Khamenei ke ambang kehancuran dan membuat gagasan perubahan rezim semakin menguat di tingkat internasional. Ia bahkan menilai peluang rezim Khamenei tumbang pada akhir tahun ini “sangat besar”.

Pahlavi juga mengkritik sikap negara-negara Barat, terutama di Eropa, yang menyerukan deeskalasi dan kembali ke meja perundingan. Ia menilai upaya negosiasi tidak efektif karena, menurutnya, rezim Iran tidak akan mengubah perilakunya.

“Perundingan adalah sia-sia karena rezim ini telah membuktikan berkali-kali bahwa mereka tidak akan pernah mengubah perilakunya. Anda telah berunding cukup lama dengan rezim ini. Sudah saatnya kita berinvestasi pada rakyat Iran,” ujarnya, seraya menyebut dukungan itu sebagai jalan menuju otoritas yang dapat menjamin perdamaian, keamanan dunia, dan kebebasan bagi Iran.