Pewaris terakhir monarki Iran, Reza Pahlavi, menyerukan agar otoritas pemerintahan Iran saat ini runtuh. Pernyataan itu ia sampaikan dari Paris, Prancis, dengan alasan untuk mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan dan stabilitas kawasan.
Pernyataan tersebut muncul pada Senin (23/6/2025) di tengah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Sebelumnya, pejabat Washington menyatakan pemboman situs nuklir Iran oleh AS tidak dimaksudkan untuk “perubahan rezim”. Namun, Presiden AS Donald Trump melalui unggahan media sosial pada Minggu (22/6/2025) mengindikasikan kemungkinan perubahan dalam pemerintahan Iran.
Dalam sebuah video yang tersebar luas di berbagai platform media sosial, Pahlavi menyampaikan pesan langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. “Saya punya pesan langsung untuk Ali Khamenei, turunlah! Jika Anda melakukannya, Anda akan mendapatkan persidangan yang adil dan proses hukum yang tepat,” kata Pahlavi.
Ia juga mengajak pihak-pihak terkait untuk berdiri bersama rakyat Iran. “Jangan mengulangi kesalahan masa lalu. Jangan memberikan harapan hidup rezim ini. Penghancuran fasilitas nuklir rezim sendiri tidak akan menghasilkan perdamaian,” ujarnya.
Pahlavi menekankan bahwa demokratisasi merupakan jalan yang ia nilai paling memungkinkan untuk memastikan keamanan jangka panjang dan stabilitas regional. “Anda benar untuk khawatir tentang menghentikan senjata nuklir dan mengamankan stabilitas regional, tetapi hanya transisi demokratis Iran yang dapat memastikan tujuan ini tercapai dan berlangsung untuk waktu yang lama,” katanya.
Hingga kini, pihak berwenang Iran belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Reza Pahlavi.
Reza Pahlavi telah hidup dalam pengasingan selama hampir empat dekade sejak Revolusi Islam 1979 menggulingkan ayahnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang saat itu didukung Amerika Serikat. Dukungan Pahlavi di dalam negeri disebut masih belum jelas. Sejumlah warga Iran juga masih mengingat kekejaman polisi rahasia Shah, Savak.
Dalam berbagai demonstrasi massa di Iran, pernah muncul slogan-slogan yang mendukung maupun menolak kembalinya monarki. Sementara itu, tanpa menyertakan bukti, Pahlavi mengklaim sistem pemerintahan Iran saat ini sedang runtuh dan menyatakan Ali Khamenei, keluarganya, serta sejumlah pejabat tinggi telah bersiap meninggalkan Iran.
“Ini adalah saat Tembok Berlin kami. Tetapi seperti semua momen perubahan besar, momen ini penuh dengan bahaya,” kata Pahlavi, merujuk pada runtuhnya Tembok Berlin pada 1989 yang menjadi simbol berakhirnya pemisahan Berlin Timur dan Barat.

