BERITA TERKINI
Relasi ASEAN-Uni Eropa 45 Tahun: Dari Era Perang Dingin ke Persaingan Pengaruh di Asia

Relasi ASEAN-Uni Eropa 45 Tahun: Dari Era Perang Dingin ke Persaingan Pengaruh di Asia

Hubungan Uni Eropa (UE) dan ASEAN telah berlangsung selama 45 tahun, melewati berbagai perubahan besar yang membentuk politik dan ekonomi global. Dari masa Perang Dingin hingga situasi geopolitik saat ini, relasi kedua kawasan terus bergerak mengikuti dinamika dunia.

Dari medan Eropa ke panggung Asia

Pada akhir 1970-an, dunia berada dalam ketegangan Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Pertarungan pengaruh saat itu terutama berpusat di Eropa, dengan perlombaan senjata nuklir menjadi salah satu penandanya.

Di periode yang sama, Asia belum menjadi motor pertumbuhan ekonomi global. China masih bergulat dengan konsolidasi internal meski gagasan membuka ekonomi domestik telah matang. Sementara itu, kawasan Indo-China masih dilanda perang yang menelan jutaan korban warga sipil.

Kini, lanskap itu berubah. China melesat menjadi kekuatan utama dunia dan menjadi penantang Amerika Serikat. Persaingan pengaruh di antara keduanya berlangsung, dengan Asia—termasuk Asia Tenggara—menjadi salah satu panggung utamanya. Pada saat yang sama, Asia telah berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia, dan negara-negara Asia Tenggara tidak lagi berada pada kondisi seperti 1970-an.

Peringatan 45 tahun di Brussels

Dalam konteks perubahan tersebut, peringatan 45 tahun hubungan diplomatik ASEAN dan UE digelar di Brussels, Belgia, Rabu (14/12/2022). Momentum itu ditandai pertemuan para pemimpin kedua pihak dan dipandang positif karena menyoroti tantangan masa kini yang tidak sederhana.

Kesetaraan, akses pasar, dan “ganjalan” hubungan

Presiden Indonesia Joko Widodo menekankan pentingnya kesetaraan dalam kemitraan ASEAN-UE. “Jika kita ingin membangun sebuah kemitraan yang baik, kemitraan harus didasarkan pada kesetaraan, tidak boleh ada pemaksaan,” kata Jokowi dalam pertemuan tersebut, seperti dikutip Kompas.

Pernyataan itu mencerminkan adanya ganjalan dalam hubungan kedua pihak. Sejumlah produk dari negara-negara Asia Tenggara dinilai mengalami hambatan masuk ke pasar Eropa. Di sisi lain, sebagian kalangan di Eropa melihat kebijakan tersebut sebagai bagian dari komitmen terhadap perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Kedua pihak dinilai perlu melakukan upaya yang lebih serius, jujur, dan terbuka agar potensi besar hubungan ekonomi Eropa dan Asia Tenggara dapat terwujud sepenuhnya.

Transisi energi menjadi agenda penting

Isu transisi energi juga menjadi salah satu poin penting yang mengemuka dalam pertemuan UE-ASEAN. Dengan keunggulan di bidang teknologi dan pendanaan, Eropa dipandang memiliki peran penting untuk mendorong transisi energi di Asia Tenggara.

Namun, kerja sama yang dibangun ditekankan harus saling menguntungkan. Hal itu diperlukan agar transisi energi dapat berjalan baik tanpa membuat negara-negara Asia Tenggara terjebak dalam beban utang yang berat.

Saling membutuhkan di tengah persaingan global

Di tengah kebangkitan China, ASEAN dinilai memerlukan kehadiran konkret UE—terutama melalui investasi dan perdagangan—untuk membantu menciptakan keseimbangan. Sebaliknya, Eropa juga merasa perlu mempererat hubungan dengan Asia Tenggara sebagai respons atas perkembangan persaingan Amerika Serikat dan China.

Dengan demikian, hubungan UE dan ASEAN dipandang berada pada titik di mana kedua kawasan saling membutuhkan, baik dalam aspek ekonomi maupun dalam menghadapi perubahan geopolitik yang terus berlangsung.