BERITA TERKINI
Putin Ancam Rebut Lebih Banyak Wilayah Ukraina Jika Perundingan Gencatan Senjata Mandek

Putin Ancam Rebut Lebih Banyak Wilayah Ukraina Jika Perundingan Gencatan Senjata Mandek

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Rusia akan merebut lebih banyak wilayah di Ukraina jika Kyiv dan negara-negara Eropa menolak melanjutkan pembahasan gencatan senjata permanen yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam rapat tahunan Kementerian Pertahanan Rusia pada Rabu (17/12), Putin mengatakan militer Rusia akan terus bergerak maju di seluruh lini dan menegaskan Moskow akan mencapai tujuannya melalui kekuatan militer maupun diplomasi. Ia menyebut, bila pihak lawan dan para pendukung asingnya menolak terlibat dalam pembahasan yang substantif, Rusia akan menempuh jalur militer untuk mencapai apa yang ia sebut sebagai “pembebasan wilayah-wilayah historisnya”.

Putin juga menuduh pemerintahan Presiden AS Joe Biden berupaya menghancurkan Rusia, serta mengklaim para politikus Eropa mengejar tujuan serupa. Ia menyebut para politisi Eropa sebagai “shoats” atau “anak babi” karena dinilai memicu histeria tentang kemungkinan perang dengan Rusia, dan mengultimatum Moskow suatu hari bisa menyerang negara anggota aliansi militer NATO.

Putin kembali menolak anggapan adanya ancaman Rusia terhadap negara-negara Eropa. “Saya sudah berulang kali menyatakan: ini adalah kebohongan, omong kosong, omong kosong belaka tentang ancaman Rusia yang imajiner terhadap negara-negara Eropa. Namun ini dilakukan secara sengaja,” kata Putin.

Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov mengatakan salah satu target pada 2026 adalah meningkatkan tempo ofensif Rusia. Dalam sebuah slide yang ditampilkan saat pidatonya, disebutkan Rusia mengalokasikan 5,1 persen produk domestik bruto (PDB) untuk perang pada 2025.

Amerika Serikat telah menggelar pembicaraan dengan Moskow, Kyiv, dan negara-negara Eropa terkait usulan untuk mengakhiri perang di Ukraina. Namun hingga kini belum tercapai kesepakatan.

Kyiv dan negara-negara Eropa menyatakan keprihatinan atas tuntutan konsesi wilayah Ukraina dalam proposal tersebut, serta menuntut jaminan keamanan yang lebih kuat. Sementara itu, Rusia menyatakan kini menguasai sekitar 19 persen wilayah Ukraina, termasuk Semenanjung Crimea yang dianeksasi pada 2014, sebagian besar wilayah Donbas di timur, sebagian besar wilayah Kherson dan Zaporizhzhia, serta bagian kecil dari empat wilayah lainnya.

Moskow mengklaim Crimea, Donbas, Kherson, dan Zaporizhzhia kini merupakan bagian dari Rusia. Namun Ukraina menegaskan tidak akan pernah menerima klaim tersebut, dan hampir seluruh negara di dunia menganggap wilayah-wilayah itu sebagai bagian dari Ukraina.

Para pemimpin Eropa menyatakan tetap berdiri bersama Kyiv dan menegaskan Rusia tidak boleh “diberi hadiah” atas perang di Ukraina. Sejumlah pemimpin Eropa juga menuduh Rusia tidak sungguh-sungguh berniat terlibat dalam perundingan damai.

Belousov melontarkan kritik serupa terhadap Eropa. Ia menilai negara-negara Eropa berupaya menggagalkan upaya mengakhiri perang dan terus membicarakan kemungkinan perang antara Rusia dan NATO dalam beberapa tahun ke depan. “Kebijakan semacam itu menciptakan prasyarat nyata bagi berlanjutnya operasi militer tahun depan, 2026,” ujarnya.