BERITA TERKINI
Prabowo Jelaskan Alasan Frekuensi Kunjungan Luar Negeri: Diplomasi Ekonomi untuk Jaga Lapangan Kerja

Prabowo Jelaskan Alasan Frekuensi Kunjungan Luar Negeri: Diplomasi Ekonomi untuk Jaga Lapangan Kerja

JAKARTA—Presiden Prabowo Subianto merespons sorotan publik mengenai tingginya frekuensi kunjungan luar negerinya. Ia menegaskan, rangkaian lawatan tersebut bukan agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi diplomasi ekonomi yang menurutnya berdampak pada lapangan kerja dan keberlangsungan industri nasional.

Penjelasan itu disampaikan Prabowo melalui tayangan di kanal YouTube resminya bertajuk “Prabowo Menjawab 2” yang dirilis pada Minggu (22/3). Dalam tayangan tersebut, ia menyatakan setiap kunjungan memiliki tujuan spesifik, terutama untuk membuka akses pasar dan memperkuat posisi tawar Indonesia.

Selama 17 bulan menjabat, Prabowo tercatat telah mengunjungi 28 negara. Sejumlah negara dikunjungi berulang kali, antara lain Malaysia sebanyak lima kali, Uni Emirat Arab empat kali, serta Mesir, Amerika Serikat, dan Inggris masing-masing tiga kali.

Menurut Prabowo, intensitas kunjungan itu mencerminkan perubahan lanskap global yang semakin menitikberatkan kekuatan ekonomi. Dalam situasi tersebut, ia menilai negara-negara dituntut aktif membangun hubungan internasional, termasuk melalui diplomasi langsung di tingkat kepala negara.

Prabowo juga menanggapi anggapan bahwa kunjungan tersebut sekadar “jalan-jalan”. Ia menolak pandangan itu dan menyebut setiap perjalanan membawa misi konkret yang berkaitan dengan kepentingan pekerja di Indonesia. “Mungkin ada yang menyangka saya suka jalan-jalan ke situ. Padahal, saya jalan-jalan untuk menjaga rakyat saya, menjaga lapangan kerja mereka,” katanya.

Selain itu, ia menyebut kehadiran dalam undangan internasional sebagai bagian dari etika hubungan antarnegara. “Kalau diundang, kita tidak datang, kan enggak bagus. Nah, makanya setiap presiden Indonesia, ya, capek,” ujarnya.

Diplomasi langsung dinilai krusial

Prabowo menggarisbawahi bahwa dalam banyak kasus, kehadiran langsung kepala negara menjadi faktor penentu dalam negosiasi ekonomi, terutama yang berkaitan dengan perdagangan dan investasi. “Di ujungnya saya harus datang,” katanya.

Ia menjelaskan, perundingan kerap menemui kebuntuan di tingkat teknis. Dalam kondisi tersebut, keputusan strategis dinilai hanya bisa diambil melalui komunikasi langsung antar pemimpin negara. “Kadang-kadang kalau kita berunding, mereka selalu bilang harus lapor ke nomor satu mereka. Ada hal-hal penting yang memang harus dibicarakan langsung antar-pemimpin negara,” ucapnya.

Prabowo mencontohkan upaya diplomasi Indonesia dalam menembus pasar Uni Eropa dan Kanada melalui skema kerja sama ekonomi. Ia menyebut sejumlah komoditas unggulan seperti tekstil dan sepatu kini mendapatkan tarif nol persen setelah sebelumnya menghadapi hambatan perdagangan.

Menurutnya, tanpa intervensi langsung di tingkat kepala negara, sektor manufaktur dalam negeri berisiko mengalami tekanan serius. “Sepatu kita, tekstil kita yang tadinya terancam, sekarang kita punya pengalihan. Kalau saya tidak datang langsung ke Raja Belgia, Raja Belanda, atau pimpinan Uni Eropa, mungkin kita tidak akan tembus,” ujarnya.

Lebih jauh, Prabowo menyatakan diplomasi saat ini telah bergeser menjadi instrumen geoekonomi. Ia menilai kekuatan ekonomi menjadi kunci dalam menentukan posisi suatu negara di kancah global. “Kalau ekonomi kita kuat, kita tidak bisa dibentak-bentak,” tegasnya.

Ia juga menyoroti posisi strategis Indonesia sebagai negara dengan sumber daya alam melimpah yang menjadi perhatian berbagai kekuatan besar dunia. Karena itu, ia menilai hubungan dengan organisasi internasional seperti ASEAN, G20, dan OKI perlu terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan kepentingan nasional.