BERITA TERKINI
Potensi Wisata Pengamatan Migrasi Burung di NTB, dari Edukasi hingga Ekowisata Berkelanjutan

Potensi Wisata Pengamatan Migrasi Burung di NTB, dari Edukasi hingga Ekowisata Berkelanjutan

Musim dingin di belahan bumi utara yang membuat suhu turun hingga di bawah titik beku memicu perubahan besar pada aktivitas satwa. Saat insekta—yang menjadi pakan banyak jenis burung—sulit ditemukan karena kondisi lingkungan membeku, jutaan burung memilih bermigrasi ke wilayah yang lebih hangat untuk mencari makan sekaligus berkembang biak.

Pergerakan burung migran dari utara ke selatan berlangsung melalui koridor yang relatif tetap. Dalam perjalanan panjang yang dapat memakan waktu berminggu-minggu, burung-burung ini membutuhkan lokasi persinggahan untuk beristirahat. Nusa Tenggara Barat (NTB) disebut menjadi salah satu kawasan persinggahan tersebut, didukung karakter wilayah tropis dekat khatulistiwa dan berada di lintasan garis Wallace, dengan ragam ekosistem seperti hutan basah, savana, mangrove, dan rawa.

Momentum kedatangan burung migran itu dinilai dapat dimanfaatkan untuk aktivitas pengamatan burung, baik sebagai sarana memperkaya pengetahuan ekologi maupun sebagai peluang pengembangan ekowisata. NTB disebut sebagai salah satu rute yang kerap dilalui burung migran, baik saat bergerak dari belahan bumi utara menuju selatan maupun sebaliknya.

Dalam jalur migrasi, burung-burung dari Asia Timur umumnya melintasi Tiongkok, Taiwan, Filipina, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa, dan Nusa Tenggara sebelum melaju ke Australia. Selain itu, ada spesies lain yang melewati jalur barat melalui Sumatera, Jawa, dan Bali, serta jalur tengah melalui Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur.

Secara geografis, NTB berada pada jalur East Asian–Australasian Flyway (EAAF) yang membentang dari Rusia Timur dan Alaska hingga Australia dan Selandia Baru. Jalur terbang Asia Timur–Australia ini disebut sebagai salah satu yang terpadat di dunia, dengan hingga 50 juta ekor burung migran melintas setiap tahun. Posisi tersebut membuat pengamatan burung migran dinilai berpotensi menjadi produk baru dalam pengembangan ekowisata daerah.

Beberapa lokasi di NTB yang disebut kerap dikunjungi burung migran antara lain ekowisata mangrove Bagek Kembar di Lombok Barat, kawasan perbukitan di pesisir Lombok Utara, serta Taman Nasional Moyo Satonda di Pulau Sumbawa.

Contoh aktivitas pengamatan burung migran berlangsung pada 18–19 Oktober 2025 di Bukit Nipah, Lombok Utara. Sekelompok anak muda yang digerakkan Yayasan Paruh Bengkok Indonesia berkumpul untuk mengamati pergerakan burung di atas laut. Salah satu peserta, Triadede, menilai kegiatan tersebut dapat menjadi sarana edukasi sekaligus rekreasi. Ia mengaku memperoleh pengetahuan baru tentang jenis burung yang diamati meski tidak mengetahui nama ilmiahnya secara spesifik.

Yayasan Paruh Bengkok Indonesia menyatakan wisata minat khusus pengamatan migrasi burung belum populer. Meski Indonesia dilintasi jutaan burung migran setiap tahun, belum ada daerah yang menjadikan migrasi burung sebagai objek wisata. Penasihat ilmiah yayasan itu, Saleh Amin, menyebut beberapa lokasi pengamatan burung migran di Indonesia, seperti kawasan Puncak Bogor di Jawa Barat dan Gunung Seger di Bali. Namun, menurutnya potensi tersebut belum dilirik secara serius oleh pemerintah maupun pihak swasta.

Saleh menilai dukungan pemerintah dapat diwujudkan melalui regulasi yang berfokus pada kebijakan konservasi untuk menjaga habitat di sepanjang jalur migrasi. Ia juga menekankan perlunya upaya mencegah perburuan burung migran dengan senapan angin, menekan deforestasi, serta menjaga kawasan persinggahan. Perubahan lingkungan di lokasi singgah disebut berpotensi mengubah jalur migrasi.

Di sisi lain, tren pariwisata global disebut bergerak dari wisata massal menuju wisata berkelanjutan yang lebih tersegmentasi, termasuk birdwatching. Aktivitas ini umumnya dilakukan dengan mengamati burung di habitat alaminya tanpa merusak hutan, mangrove, rawa, maupun pantai yang menjadi tempat persinggahan. Dampak ekologis dan jejak karbon yang ditinggalkan juga dinilai lebih kecil dibanding wisata massal.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram, Zefanya Andryan Girsang, menyatakan meski peminat wisata pengamatan burung relatif sedikit, wisatawan cenderung tinggal lebih lama dan bersedia mengeluarkan biaya lebih besar untuk melihat beragam spesies burung migran. Menurutnya, kegiatan ini mengedepankan penghormatan terhadap lingkungan dan menjaga nilai budaya masyarakat lokal.

Ia menilai kombinasi keanekaragaman hayati dan lanskap yang indah membuat NTB berpotensi menjadi destinasi birdwatching kelas dunia, setara dengan destinasi populer seperti Arfak dan Waigeo di Papua Barat. Dari perspektif pemasaran pariwisata, pengamatan burung juga disebut dapat menjadi diversifikasi produk wisata NTB yang berpeluang meningkatkan durasi tinggal dan belanja wisatawan—dua indikator penting dalam menilai performa ekonomi pariwisata daerah.

Dalam pengembangan wisata minat khusus ini, pemerintah disebut berperan besar, termasuk membangun jejaring internasional melalui kerja sama dengan tour operator dari negara penyumbang wisatawan. Selain itu, sinergi lintas sektor dalam kerangka pentahelix dinilai perlu dibangun agar NTB tidak hanya menjadi wilayah persinggahan burung migran, tetapi juga tujuan kunjungan wisatawan dari berbagai negara.

Aspek regulasi juga ditekankan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan konservasi. Regulasi itu dapat dituangkan dalam peraturan daerah yang mengatur kualifikasi tour operator dan pemandu wisata alam, pembatasan jumlah pengunjung, penentuan zona konservasi, serta ketentuan pelaksanaan kegiatan pengamatan burung.

Dengan perencanaan yang menyelaraskan kepentingan ekonomi dan kelestarian alam, pengamatan burung migran dinilai berpeluang menjadi ikon wisata baru yang memperkuat citra destinasi, khususnya di Nusa Tenggara Barat.