Eropa menghadapi dinamika demografis baru pada 2025. Populasi Muslim di benua tersebut diperkirakan mencapai sekitar 46 juta orang, atau sekitar 6% dari total penduduk. Dalam jumlah absolut, Rusia, Prancis, dan Jerman tercatat sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar. Sementara itu, beberapa negara di kawasan Balkan—seperti Bosnia dan Albania—menonjol karena memiliki konsentrasi penduduk Muslim tertinggi jika dilihat dari persentase populasi.
Pertumbuhan populasi Muslim di Eropa disebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk migrasi, tingkat kelahiran, dan latar sejarah. Perubahan komposisi demografis ini dipandang berpotensi memengaruhi berbagai aspek kehidupan di Eropa, mulai dari ekonomi dan sosial hingga arah kebijakan publik dalam dekade mendatang.
Rusia menjadi negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di Eropa secara absolut, yakni sekitar 16,4 juta orang. Populasi ini mencakup kelompok etnis Muslim yang telah lama menetap, seperti Tatar, Bashkir, Chechen, dan kelompok lainnya.
Di Eropa Barat, Prancis memiliki salah satu komunitas Muslim terbesar. Keberadaan komunitas ini banyak terkait dengan migrasi dari Afrika Utara yang berlangsung sejak paruh kedua abad ke-20 hingga berlanjut pada abad ke-21.
Jerman dan Inggris juga menunjukkan tren pertumbuhan komunitas Muslim. Pertumbuhan tersebut dikaitkan dengan kombinasi migrasi serta meningkatnya angka kelahiran di kalangan komunitas migran yang telah menetap selama beberapa generasi.
Di Italia, perkembangan populasi Muslim antara lain didorong oleh migrasi baru dari Afrika Utara dan Timur Tengah. Konsentrasi komunitas terbesar disebut berada di kota-kota besar, seperti Roma, Milan, dan Turin.
Sementara itu, Bosnia disebut memiliki konsentrasi penduduk Muslim tertinggi di Eropa, yakni lebih dari 50% dari total populasi. Komunitas Muslim di negara tersebut menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas nasional, dengan akar yang kuat sejak era Ottoman.

