Jakarta — Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) menilai politik luar negeri bebas aktif menjadi kekuatan utama Indonesia di tengah krisis global, terutama dalam menghadapi dinamika perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PIKI Badikenita Br. Sitepu mengatakan, dalam konteks geopolitik Indonesia tetap berpegang pada prinsip bebas aktif. Menurut dia, Indonesia tidak hanya terlibat dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP), tetapi juga menjalin berbagai kerja sama internasional, termasuk dengan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS).
Badikenita menekankan bahwa keterlibatan Indonesia dalam berbagai forum kerja sama internasional tetap dilakukan dengan menjaga posisi independen. Ia menyebut, ruang diskusi dan kerja sama Indonesia tidak hanya dengan negara-negara tertentu seperti AS, Afganistan, atau Arab Saudi, tetapi juga dengan mitra internasional lain yang dinilai dapat menjadi kekuatan bersama.
Untuk membahas isu-isu krisis global serta kondisi terkini di Indonesia, PIKI berencana menggelar kongres ketujuh pada 30 April hingga 2 Mei 2026. Sejumlah topik yang akan dibahas disebut memiliki keterkaitan erat dengan situasi global, antara lain ketahanan pangan dan ketahanan energi.
Badikenita menyampaikan bahwa tema kongres akan mencakup ketahanan pangan, ketahanan energi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ia juga menyinggung posisi tawar Indonesia dalam kerja sama perdagangan, termasuk terkait kebijakan izin impor beras yang kembali diberikan sekitar seribu ton.
Dalam konteks ketahanan pangan, PIKI mengapresiasi kebijakan pemerintah yang membatasi impor beras dan jagung. Namun, Badikenita menilai produktivitas komoditas lain juga perlu ditingkatkan untuk memperkuat ketahanan pangan di dalam negeri.
Terkait ketahanan energi, PIKI merespons pernyataan bahwa cadangan energi Indonesia disebut hanya cukup bertahan sekitar 20 hari. Karena itu, pemerintah dinilai perlu meninjau dan mengoptimalkan potensi produksi energi selain batu bara.
Badikenita menyebut Indonesia memiliki peluang pengembangan energi dari berbagai sumber, termasuk biodiesel. Ia juga mengatakan kemungkinan pengembangan energi nuklir akan menjadi bagian pembahasan dalam study meeting PIKI.

