BERITA TERKINI
Perubahan Politik Suriah dan Harapan Baru bagi Etnis Uyghur

Perubahan Politik Suriah dan Harapan Baru bagi Etnis Uyghur

Hubungan pemerintah Suriah di bawah Bashar al-Assad dengan etnis Uyghur selama ini dinilai tidak harmonis. Pada masa kepemimpinannya, rezim Assad tidak memberikan dukungan terhadap Uyghur dan cenderung mengedepankan hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Dalam kerangka itu, Suriah lebih berpihak pada narasi resmi Beijing yang memandang Uyghur sebagai komunitas separatis dan ekstremis.

Relasi yang tegang tersebut turut dipengaruhi dinamika perang saudara. Sejumlah pejuang Uyghur yang berdiaspora ke Suriah dilaporkan bergabung dengan faksi-faksi bersenjata anti-rezim. Situasi ini memperburuk hubungan dengan pemerintah Suriah saat itu, sekaligus memperkuat pandangan rezim Assad yang menganggap Uyghur sebagai musuh negara serta bagian dari kelompok separatis dan ekstremis.

Di sisi lain, Tiongkok selama bertahun-tahun menjadi mitra penting Suriah, baik dari sisi ekonomi maupun politik luar negeri. Tiongkok dipandang sebagai salah satu penopang rezim Assad, termasuk dalam penggunaan hak veto terhadap resolusi yang diinisiasi negara-negara Barat terkait konflik Suriah. Dalam konteks yang sama, peran Tiongkok dan Rusia disebut penting bagi keberlangsungan politik rezim Assad di tengah tekanan dan kecaman internasional.

Kerja sama ekonomi juga menjadi elemen utama dalam hubungan kedua negara. Pemerintah Tiongkok disebut berperan dalam rekonstruksi pascaperang melalui investasi infrastruktur. Suriah tercatat bergabung dalam Belt Road Initiative (BRI) sejak 2022. Melalui perusahaan-perusahaan besar, Tiongkok dikabarkan melakukan investasi dan memberikan bantuan di Suriah, antara lain investasi pada sektor minyak dan gas senilai sekitar 3 miliar dolar AS serta dukungan di sektor energi listrik yang nilainya disebut mencapai ratusan juta dolar AS.

Meningkatnya keterlibatan ekonomi tersebut dinilai memberi keuntungan strategis bagi Beijing, terutama dalam memperluas pengaruh di Timur Tengah dan memperkuat proyek BRI di kawasan. Kepentingan itu juga dikaitkan dengan posisi Timur Tengah sebagai wilayah dengan cadangan minyak besar, yang menjadi salah satu alasan Tiongkok turut membantu Suriah memperbaiki kondisi domestik pascakonflik.

Namun, setelah Suriah bergabung dalam BRI, investasi Tiongkok di negara itu disebut justru cenderung melemah. Padahal, bergabungnya Suriah dalam BRI dipandang sebagai upaya untuk menarik lebih banyak investasi, memperkuat kerja sama bilateral, dan membuka peluang kerja sama dengan sesama anggota BRI. Kebijakan tersebut juga disebut sebagai langkah rezim Assad untuk mengurangi dampak sanksi Amerika Serikat terhadap Suriah.

Arah politik luar negeri Suriah kemudian disebut berubah setelah runtuhnya rezim Assad, menyusul penyerangan yang dilakukan oposisi Suriah terhadap pasukan rezim di Damaskus. Perubahan ini menjadi salah satu faktor yang kembali memunculkan pembahasan mengenai posisi etnis Uyghur dalam lanskap politik dan keamanan Suriah.

Keterlibatan Uyghur dalam konflik Suriah telah terlihat sejak 2012, ketika sejumlah kelompok Uyghur di diaspora mulai bergabung dengan kelompok oposisi bersenjata yang menentang Assad. Keterlibatan ini dikaitkan dengan kemunculan Turkistan Islamic Party (TIP), organisasi militan yang sebelumnya aktif di Pakistan dan Afghanistan. Dalam narasi yang beredar, keterlibatan TIP didorong oleh solidaritas terhadap umat Islam di Suriah.

TIP juga disebut terafiliasi dengan organisasi jihad lain, termasuk Jabhat al-Nusra yang kini dikenal sebagai Hayat Tahrir al-Shaam (HTS), kelompok yang disebut sebagai cabang Al-Qaeda dan bertempur melawan pasukan pemerintah Suriah. Pada periode 2015 hingga 2018, banyak jihadis Uyghur beserta keluarganya dilaporkan bermigrasi ke Suriah dan terlibat dalam pelatihan militer serta operasi tempur. Dalam laporan yang beredar, anak-anak Uyghur juga disebut ikut dalam pelatihan militer dan ideologis.

Banyaknya keterlibatan Uyghur dikaitkan dengan ajakan yang mengatasnamakan “jihad global”, yang bertujuan memperoleh simpati internasional atas isu Uyghur di Xinjiang, termasuk dukungan moral maupun dukungan lain agar mereka terbebas dari penindasan dan pembersihan etnis yang disebut dilakukan Tiongkok.

Dalam konflik di Suriah, jihadis Uyghur digambarkan memiliki kemampuan tempur yang kuat, keterampilan militer yang baik, serta manajemen komunikasi dan hubungan yang efektif. TIP disebut berperan dalam serangan darat melawan pasukan Presiden Bashar al-Assad, terutama di wilayah utara Suriah.