BERITA TERKINI
Pernyataan Iran soal Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Volatilitas Pasar Global

Pernyataan Iran soal Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Volatilitas Pasar Global

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali menjadi sorotan setelah pernyataan dua tokoh penting Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, menyinggung soal kontrol atas jalur pelayaran strategis tersebut. Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu titik paling vital bagi perdagangan minyak dunia, sehingga setiap sinyal eskalasi berpotensi memicu gejolak di pasar global.

Dalam pernyataannya, Mojtaba Khamenei menyebut Iran akan “mengakhiri eksploitasi musuh” terkait Selat Hormuz. Sementara itu, Qalibaf menegaskan bahwa melalui kontrol atas selat tersebut, Iran bersama negara-negara tetangganya dapat membangun masa depan tanpa campur tangan Amerika Serikat. Pernyataan ini dipandang sebagai penegasan ambisi Iran untuk memiliki pengaruh lebih besar di jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut.

Selat Hormuz merupakan jalur perairan sempit yang menjadi salah satu rute tersibuk dan paling strategis di dunia. Hampir sepertiga pasokan minyak global—baik melalui kapal tanker maupun pipa—melintas di kawasan ini. Dalam beberapa tahun terakhir, ketegangan Iran dan Amerika Serikat, terutama terkait isu nuklir dan sanksi ekonomi, kerap memicu meningkatnya risiko keamanan di wilayah sekitar selat.

Dalam konteks itu, pernyataan terbaru dari pihak Iran dipahami bukan sekadar retorika politik. Isyarat tersebut membuka kemungkinan respons yang dapat beragam, mulai dari peningkatan aktivitas militer, penahanan kapal tanker, hingga potensi pembatasan lalu lintas secara parsial. Meski belum ada kepastian langkah konkret, pasar biasanya merespons lebih dulu berdasarkan persepsi risiko.

Dari sisi pasar, komoditas minyak mentah menjadi instrumen yang paling sensitif terhadap perkembangan di Selat Hormuz. Kekhawatiran gangguan pasokan umumnya mendorong harga minyak—seperti WTI dan Brent—naik tajam. Selain minyak, dinamika juga dapat merembet ke aset lain, termasuk mata uang utama dan komoditas safe haven.

Dolar AS dapat bergerak beragam dalam situasi ketidakpastian geopolitik. Di satu sisi, status dolar sebagai mata uang cadangan dunia dapat menguatkan permintaan ketika pasar memasuki fase “risk-off”. Namun di sisi lain, apabila eskalasi memicu lonjakan harga energi yang memperburuk inflasi dan membebani ekonomi, dolar juga berpotensi menghadapi tekanan.

Sejumlah pasangan mata uang utama juga berpotensi terdampak. Euro dan poundsterling dapat melemah jika kekhawatiran perlambatan ekonomi global meningkat, sementara yen Jepang kerap dipandang sebagai aset safe haven yang cenderung menguat saat ketidakpastian membesar. Di luar itu, emas biasanya menjadi tujuan investor ketika risiko geopolitik meningkat, sehingga berpeluang menguat apabila sentimen pasar memburuk.

Situasi ini muncul ketika ekonomi global dinilai berada dalam kondisi rapuh. Inflasi masih menjadi perhatian di banyak negara, sementara bank sentral berupaya menyeimbangkan kebijakan untuk menekan inflasi tanpa mendorong ekonomi ke jurang resesi. Dalam kondisi seperti ini, potensi lonjakan harga energi akibat ketegangan di Selat Hormuz dapat memicu efek berantai, termasuk tekanan inflasi tambahan yang dapat memengaruhi kebijakan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi.

Secara keseluruhan, pernyataan Iran mengenai kontrol atas Selat Hormuz menjadi sinyal yang dipantau pelaku pasar karena berpotensi meningkatkan volatilitas lintas aset. Perkembangan lanjutan—baik berupa pernyataan tambahan, aktivitas militer, maupun respons negara lain—akan menjadi penentu arah sentimen berikutnya di pasar global.