Keamanan kawasan Eropa kembali menjadi sorotan menyusul rangkaian peringatan dan insiden pada pertengahan November 2025. Sejumlah pemerintah Eropa, lembaga militer, hingga NATO menilai Rusia meningkatkan pola operasi yang disebut sebagai perang hibrida, yakni tindakan yang tidak hanya berbentuk serangan militer konvensional, tetapi juga menyasar infrastruktur vital, sistem digital, persepsi publik, serta dugaan sabotase lintas negara.
Pada 18 November 2025, Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto memperingatkan bahwa Moskow meningkatkan intensitas operasi hibrida. Dalam pernyataannya, ia menyebut bentuk-bentuk serangan yang dikhawatirkan mencakup perusakan fisik infrastruktur strategis, serangan siber terhadap institusi pemerintah dan militer, manipulasi informasi dengan kecerdasan buatan, kampanye disinformasi untuk mengacaukan opini publik dan memengaruhi pemilu, serta gangguan terhadap rantai pasok energi dan logistik Eropa.
Crosetto menilai mekanisme respons NATO dan Uni Eropa masih terlalu lambat. Ia mengusulkan pembentukan Pusat Perang Hibrida Uni Eropa dan pembentukan pasukan siber gabungan beranggotakan 1.500 personel untuk memperkuat pertahanan, khususnya di sayap timur NATO.
Di hari yang sama, sebuah insiden drone memicu alarm keamanan di Eropa Timur. Pada 18–19 November 2025, sebuah drone bunuh diri Rusia dilaporkan menyeberang masuk ke wilayah Eropa Timur: memasuki wilayah udara Ukraina, melintasi Moldova, lalu masuk kembali ke Rumania sebelum hilang dari radar. Jet tempur Eurofighter Typhoon Jerman dan pesawat tempur Angkatan Udara Rumania dilaporkan lepas landas untuk mencegat. NATO menyebut peristiwa ini sebagai indikasi meningkatnya agresivitas Rusia dalam menguji respons pertahanan udara Eropa.
Ketegangan juga meningkat tajam di Polandia setelah dugaan sabotase jalur kereta Warsawa–Lublin, rute yang disebut sebagai jalur utama penyaluran suplai militer ke Ukraina. Peristiwa itu terjadi pada 18 November 2025 dan dikaitkan dengan dua warga Ukraina yang tinggal di Belarus, yang disebut bekerja untuk intelijen Rusia, dengan penggunaan bahan peledak C4.
Polandia merespons dengan serangkaian langkah pada 19 November 2025, termasuk menutup konsulat Rusia terakhir di Gdansk, mengerahkan 10.000 tentara untuk mengamankan infrastruktur nasional, serta menuduh Rusia melakukan “tindakan terorisme negara”. Polandia juga bergabung dalam skema pendanaan pembelian senjata AS untuk Ukraina senilai 100 juta dolar AS dan membentuk satuan kerja Polandia–Ukraina untuk menangkal sabotase. Pergerakan kendaraan lapis baja dan tank Polandia dilaporkan terlihat menuju titik-titik strategis perbatasan.
Di sisi lain, Ukraina menyatakan kesiapan berbagi intelijen dan teknologi anti-drone kepada Polandia. Pernyataan ini dipandang sebagai pergeseran peran Ukraina, yang tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga mulai tampil sebagai pemasok keamanan regional.
Sementara itu, medan perang di sekitar Krimea mengalami eskalasi pada 17–19 November 2025. Ukraina dilaporkan dua kali melancarkan operasi besar, menembakkan gelombang drone dan rudal jelajah R-360 Neptune ke fasilitas militer Rusia. Pada 19 November, serangan disebut memicu kepanikan sistem pertahanan udara Rusia, dengan radar yang salah mengunci sasaran hingga Rusia dilaporkan tanpa sengaja menembak jatuh pesawat tempurnya sendiri, Su-35, yang disebut bernilai sekitar 85 juta dolar AS. Pada hari yang sama, sebuah depot minyak utama di Krimea dilaporkan meledak setelah dihantam rudal Neptune yang lolos dari sistem S-300/S-400. Asap tebal dilaporkan terlihat dari berbagai penjuru Krimea.
Serangan jarak jauh Ukraina juga dilaporkan terjadi di dalam wilayah Rusia pada 18–19 November 2025. Pada 18 November, PLTU New Michurinsk di Ryazan dilaporkan terbakar hebat setelah diserang drone, dengan unit 4 dan 5 disebut hancur total. Gubernur daerah dilaporkan melarang publik mengunggah gambar lokasi, yang memicu dugaan kerusakan lebih besar dari informasi resmi. Kemudian pada 19 November, serangan drone merusak gardu induk besar di Kursk dan menyebabkan sekitar 16.000 rumah mengalami pemadaman listrik di tengah suhu musim dingin.
Pada 19 November 2025, Ukraina juga dilaporkan menembakkan rudal ATACMS buatan Amerika Serikat ke Pangkalan Udara Baltimor di Voronezh. Rusia mengklaim seluruh rudal berhasil ditembak jatuh, namun rekaman visual disebut memperlihatkan jejak fragmentasi khas ATACMS yang dinilai mengindikasikan rudal mencapai sasaran.
Di hari yang sama, serangan balasan Rusia menggunakan rudal KH-101 menghantam sebuah apartemen di Ternopil, Ukraina. Serangan itu dilaporkan menewaskan 25 warga sipil, termasuk dua anak, dan disebut sebagai salah satu serangan paling mematikan terhadap kawasan sipil Ukraina sepanjang November 2025.
Dalam perkembangan lain, laporan SIPRI 2025 mencatat penurunan tajam ekspor senjata Rusia. Pangsa pasar ekspor senjata Rusia dilaporkan turun dari 21% menjadi 7,8%, pendapatan ekspor turun hampir 50% sejak invasi, dan jumlah negara pembeli berkurang dari 47 menjadi 33 negara. Penurunan ini dikaitkan dengan anjloknya reputasi alutsista Rusia setelah rentetan kegagalan teknis selama perang di Ukraina.
Masih pada rentang 18–19 November 2025, muncul laporan mengenai keberhasilan rudal murah Ukraina bernama Fire Chain Bird—disebut berharga 14.000 dolar AS—menembus sistem pertahanan udara S-500 Rusia, yang disebut bernilai 12 juta dolar AS per unit. Keberhasilan itu dikaitkan dengan profil terbang sangat rendah sekitar 30 meter yang membuat radar kehilangan penguncian, jarak tembak hingga 3.000 km, serta akurasi sekitar 14 meter. Sejumlah analis menyebut pendekatan ini sebagai “cost-kill strategy”, yakni memaksa biaya pertahanan lawan meningkat jauh melampaui biaya serangan.
Ketegangan di kawasan maritim juga mengemuka di lepas pantai Inggris pada 18–20 November 2025. Kapal intelijen Rusia Yantar, yang dikaitkan dengan dinas rahasia laut dalam Rusia (GUGI), dilaporkan menyorotkan laser ke arah kokpit pesawat RAF Inggris dan mendekati jaringan kabel internet bawah laut Eropa. Kapal itu dilaporkan diikuti secara intens oleh frigat Angkatan Laut Inggris. Menteri Pertahanan Inggris John Healey menyebut tindakan tersebut sebagai “provokasi berbahaya” dan memperingatkan Inggris siap mengambil langkah tegas jika Yantar bergerak lebih jauh ke selatan.
Insiden ini terjadi di tengah rencana Inggris menaikkan anggaran pertahanan menjadi 5% dari PDB pada 2035, termasuk pembangunan enam pabrik amunisi baru di Skotlandia, Inggris Utara, dan Wales.
Rangkaian peristiwa pada 17–20 November 2025 memperlihatkan meningkatnya ketegangan di Eropa, dengan Rusia dituding memperluas perang hibrida, negara-negara NATO memperkuat respons militer dan siber, serta Ukraina meningkatkan kemampuan ofensif dan defensifnya. Polandia muncul sebagai salah satu garis depan baru dalam menghadapi Rusia, sementara gesekan juga muncul di laut sekitar Inggris. Situasi ini menandai fase konfrontasi yang dinilai dapat meningkat sewaktu-waktu.

