BERITA TERKINI
Perang AS–Israel dan Iran Guncang Pasar: Selat Hormuz Tersendat, Harga Minyak Melonjak

Perang AS–Israel dan Iran Guncang Pasar: Selat Hormuz Tersendat, Harga Minyak Melonjak

Lonjakan harga bahan bakar sejak awal 2026 kembali menegaskan rapuhnya stabilitas energi global ketika konflik geopolitik pecah di kawasan penghasil minyak. Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada akhir Februari 2026 mengguncang pasar energi internasional, seiring terganggunya jalur perdagangan minyak, serangan terhadap fasilitas energi, dan kenaikan harga minyak dalam waktu singkat.

Sejumlah analis menilai gejolak kali ini bukan sekadar kenaikan harga sementara. Krisis energi yang muncul disebut berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap ekonomi global, terutama bagi negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi.

Timur Tengah selama ini memegang peranan penting dalam sistem energi dunia karena sebagian besar cadangan minyak dan gas berada di kawasan tersebut. Jutaan barel minyak dikirim setiap hari ke berbagai negara melalui jalur laut strategis, sehingga konflik militer di wilayah ini kerap langsung memengaruhi pasokan dan harga energi global.

Salah satu jalur paling vital adalah Selat Hormuz, selat sempit yang memisahkan Iran dan Oman. Rute ini menjadi jalur pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap hari. Ketika tensi militer meningkat, risiko terhadap kapal tanker, pelabuhan ekspor, hingga pipa energi ikut naik. Perusahaan pelayaran dapat memilih menunda operasi demi keamanan, yang pada akhirnya membuat pasokan tersendat dan memicu kenaikan harga.

Ketegangan memuncak ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar ke Iran pada akhir Februari 2026. Iran merespons dengan serangan drone dan rudal yang menyasar kapal serta fasilitas energi di kawasan Teluk Persia. Iran kemudian memperingatkan kapal-kapal komersial agar tidak melintasi Selat Hormuz, yang membuat lalu lintas tanker menurun tajam dan sempat berhenti hampir sepenuhnya.

Padahal, jalur tersebut biasanya dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari. Ketika rute ini tersendat, pasokan energi global langsung terganggu dan harga minyak melonjak di pasar internasional. Serangan juga dilaporkan mengganggu operasional sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk, termasuk terminal LNG, kilang minyak, dan pelabuhan ekspor di beberapa negara akibat serangan drone dan rudal.

Dampak gangguan pasokan tidak hanya dirasakan negara produsen. Karena minyak dan gas masih menjadi tulang punggung sistem energi global, penurunan pasokan cepat menjalar menjadi kenaikan harga yang memengaruhi berbagai sektor. Biaya transportasi meningkat, harga pangan terdorong naik, dan inflasi menjadi lebih sulit dikendalikan. Sektor manufaktur di negara industri juga menghadapi tekanan karena ketergantungan tinggi pada pasokan energi, sementara pasar keuangan bergejolak ketika investor mencari aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian geopolitik.

Asia disebut sebagai kawasan paling rentan dalam krisis ini. Banyak negara di wilayah tersebut merupakan importir minyak dan gas, dengan China, India, Jepang, serta Korea Selatan menjadi pelanggan utama minyak dari kawasan Teluk. Sekitar 75% ekspor minyak yang melewati Selat Hormuz dikirim ke negara-negara Asia, sehingga gangguan di jalur ini memaksa negara-negara tersebut mencari pasokan alternatif atau mengandalkan cadangan energi strategis.

Di sejumlah negara Asia, pemerintah mulai menerapkan kebijakan penghematan energi. Langkahnya mencakup pembatasan penggunaan listrik di sektor tertentu hingga pengaturan jam kerja untuk menekan konsumsi energi. Di beberapa negara Asia Tenggara, kebijakan kerja dari rumah juga sempat muncul sebagai opsi untuk mengurangi penggunaan bahan bakar transportasi.

Bagi Indonesia, situasi ini menjadi risiko meski tidak sepenuhnya bergantung pada minyak Timur Tengah. Sebagai importir minyak, kenaikan harga minyak mentah dapat memengaruhi beban subsidi energi dan harga bahan bakar di dalam negeri. Jika harga energi global bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan terhadap anggaran negara berpotensi meningkat.

Untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak, pemerintah disebut mempercepat pembahasan kebijakan energi alternatif, termasuk perluasan penggunaan biodiesel dan bioetanol dalam campuran bahan bakar. Selain itu, pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya, panas bumi, dan angin diprioritaskan dalam rencana energi jangka panjang.

Krisis energi 2026 memperlihatkan kembali eratnya hubungan geopolitik dan pasar energi. Konflik di wilayah penghasil energi dapat menjalar cepat ke seluruh dunia melalui gangguan jalur logistik, fasilitas produksi, dan distribusi. Situasi ini juga menggarisbawahi pentingnya diversifikasi sumber energi, peningkatan efisiensi, serta penguatan cadangan energi strategis agar negara tidak terlalu rentan terhadap guncangan serupa di masa depan.