Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam beberapa hari terakhir berupaya meyakinkan dunia bahwa dampak ekonomi dari perang yang berlangsung dengan Iran masih dapat dikendalikan. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran global setelah salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia praktis tertutup selama hampir dua pekan.
Trump menyampaikan sejumlah klaim untuk meredakan kecemasan pasar. Ia mengatakan jalur pelayaran yang terganggu itu mungkin akan kembali dibuka dalam waktu dekat. Selain itu, ia menyebut sanksi minyak Amerika Serikat terhadap “beberapa negara” akan dicabut sementara. Trump juga menyiratkan konflik yang sedang berlangsung bisa saja segera berakhir.
Namun, pesan berbeda disampaikan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Untuk pertama kalinya sejak resmi menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel, Mojtaba menyampaikan pesan publik yang dibacakan oleh seorang pembawa berita di Press TV pada Kamis (12/3/2026) waktu setempat.
Dalam pesan itu, Mojtaba menyerukan persatuan nasional Iran sekaligus menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai bentuk tekanan terhadap musuh-musuh Teheran.
Sebelumnya, beberapa kapal dagang dilaporkan terkena serangan di sekitar Selat Hormuz, jalur laut vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta kapal tanker gas. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan minyak keluar dari kawasan Timur Tengah jika serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus berlanjut. Pasukan itu bahkan memperingatkan tidak akan membiarkan “satu liter pun minyak” diekspor dari kawasan tersebut selama konflik masih berlangsung.
Bagi negara-negara Asia—kawasan pengimpor minyak mentah terbesar di dunia—situasi ini berpotensi menimbulkan konsekuensi besar. Data perusahaan intelijen energi Kpler menunjukkan bahwa pada 2025 Asia mengandalkan Timur Tengah untuk sekitar 59% impor minyak mentahnya.
Penutupan Selat Hormuz membuat sejumlah produsen minyak di kawasan kesulitan menyalurkan pasokan ke pasar global, bahkan sebagian mulai menurunkan produksi. Di sisi konsumen, sejumlah negara mengambil langkah berbeda untuk menjaga pasokan dan menahan dampak lonjakan harga energi.
China
China, yang disebut memiliki cadangan minyak darat terbesar di dunia, dilaporkan menerima jutaan barel minyak dari Iran sejak perang dimulai. Cadangan besar itu memberi bantalan sementara terhadap gangguan pasokan global.
India
India dilaporkan meningkatkan impor minyak dari Rusia setelah Amerika Serikat memberikan pengecualian sementara dari sanksi. Namun, laporan juga menyebut makanan dan minuman panas mulai menghilang dari beberapa menu di berbagai wilayah India karena kekhawatiran akan kekurangan bahan bakar untuk memasak.
Jepang
Di Jepang, pemerintah memanfaatkan cadangan strategis yang besar untuk menghadapi krisis. Negara itu memiliki sekitar 350 juta barel cadangan minyak dan telah melepas sekitar 80 juta barel, atau setara 45 hari pasokan. Langkah tersebut menjadi bagian dari pelepasan cadangan energi terbesar yang pernah dikoordinasikan oleh International Energy Agency.
Meski beberapa ekonomi besar Asia dinilai memiliki bantalan lebih kuat, banyak negara lain di kawasan merasakan tekanan lebih berat dan menempuh kebijakan darurat.
Korea Selatan
Presiden Lee Jae Myung mengatakan Korea Selatan sangat bergantung pada perdagangan global dan impor energi dari Timur Tengah. Ia mengumumkan pembatasan harga bahan bakar domestik pertama dalam hampir tiga dekade untuk menekan dampak kenaikan harga energi.
Thailand
Di Thailand, dana bahan bakar nasional dilaporkan menghabiskan puluhan juta dolar setiap hari untuk menjaga harga bahan bakar tetap rendah melalui subsidi bagi konsumen. Menteri Perdagangan Thailand Suphajee Suthumpun meminta masyarakat tidak panik dan mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario “untuk menghadapi setiap potensi dampak”. Pemerintah juga mendorong pegawai negeri menerapkan kerja jarak jauh (WFH) dan menunda perjalanan yang tidak penting.
Bangladesh
Pemerintah Bangladesh mulai memberlakukan penjatahan penjualan bahan bakar untuk mencegah panic buying. Semua universitas ditutup dalam upaya menjaga pasokan energi nasional. Militer dikerahkan di depot minyak utama, sementara polisi ditempatkan di stasiun pengisian bahan bakar.
Myanmar
Pemerintah militer Myanmar memberlakukan penjatahan bahan bakar dan melarang setengah kendaraan pribadi beroperasi. Kendaraan bernomor polisi genap hanya boleh melintas pada tanggal genap, sedangkan kendaraan bernomor ganjil hanya boleh beroperasi pada tanggal ganjil.
Pakistan
Di Pakistan, pemerintah memperkenalkan langkah penghematan ketat, termasuk menutup sekolah dan membatasi hari kerja kantor pemerintah menjadi empat hari per minggu. “Untuk menstabilkan ekonomi, kami telah mengambil keputusan yang sulit,” kata Perdana Menteri Shehbaz Sharif. Para pengemudi truk pengangkut bahan bakar juga melaporkan kekurangan pasokan. Salah seorang pengemudi, Abdul Shakoor, mengatakan perbatasan dengan Iran telah ditutup. “Iran telah menutup perbatasan dari sisi mereka,” katanya kepada AFP. “Depotnya kosong.”
Filipina
Di Filipina, sejumlah pejabat pemerintah mulai menerapkan minggu kerja empat hari untuk mengurangi konsumsi bahan bakar. Instansi pemerintah, universitas negeri, dan perguruan tinggi diminta menurunkan konsumsi bahan bakar setidaknya 10%, termasuk dengan mengatur suhu pendingin ruangan tidak lebih rendah dari 24 derajat Celsius.
Vietnam
Pemerintah Vietnam meminta perusahaan mendorong karyawan bekerja dari rumah jika memungkinkan untuk mengurangi kebutuhan perjalanan. Kebijakan kerja jarak jauh ini mengingatkan pada langkah-langkah yang diambil pada awal pandemi Covid-19. Vietnam juga berencana menghapus tarif impor bahan bakar asing hingga akhir April untuk membantu memperkuat pasokan energi nasional, di tengah antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar dan lonjakan harga energi yang cepat.
Dengan Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial bagi arus energi global, perkembangan konflik dan keputusan negara-negara terkait pasokan minyak diperkirakan akan terus memengaruhi stabilitas harga dan kebijakan energi di Asia.

