Penghancuran patung dewa Hindu di wilayah yang diperebutkan antara Thailand dan Kamboja oleh militer Thailand pada bulan lalu memicu kecaman luas, termasuk protes dari India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Insiden itu dinilai menyinggung umat Hindu dan menambah sensitivitas di tengah sengketa perbatasan yang belum tuntas.
Saat perhatian terhadap penghancuran patung tersebut mulai mereda, kontroversi baru muncul setelah pihak berwenang mengganti patung yang hancur dengan gambar Buddha. Gambar yang dipasang adalah “Buddha di bawah Perlindungan Naga”, yang didirikan di Ban Chom Kasan, Distrik Nam Yuen, Provinsi Ubon Ratchathani, berhadapan dengan Provinsi Preah Vihear di Kamboja. Pemasangan itu disebut-sebut bertujuan untuk meningkatkan semangat.
Upacara pemasangan dikawal biksu senior Phra Dhamma Vajiarayankosol dari Surin. Foto-foto yang beredar memperlihatkan sang biksu berdiri di antara personel militer ketika gambar Buddha ditempatkan tepat di atas sisa-sisa patung yang telah dihancurkan. Situasi tersebut memunculkan kritik karena dinilai lebih menampilkan pesan penaklukan ketimbang upaya rekonsiliasi.
Biksu tersebut dilaporkan menyatakan bahwa gambar itu dipasang untuk “melindungi wilayah Thailand”. Pernyataan ini menuai pertanyaan, terutama terkait peran Sangha dalam sengketa wilayah. Kritik menilai komentar semacam itu tidak semestinya disampaikan oleh seorang biksu, mengingat tugasnya bukan terlibat dalam konflik teritorial.
Wilayah yang disebut sebagai “direbut kembali” berada di area yang masih diperebutkan. Karena itu, statusnya dinilai perlu diverifikasi melalui mekanisme bilateral yang damai. Lokasi tersebut disebut sebagai salah satu dari lebih dari selusin area tumpang tindih yang saat ini diduduki pasukan Thailand setelah dua babak pertempuran berat sejak Juli tahun lalu.
Di dekat perbatasan Chong An Ma, militer Thailand sebelumnya meratakan patung Wisnu berukuran besar pada 22 Desember, sebelum kedua pihak menyatakan gencatan senjata. Tindakan itu disebut tidak perlu dan memperburuk citra Thailand karena konflik terus berlangsung, terlebih ketika tindakan militer menyasar situs religius dan cagar budaya kuno seperti Preah Vihear dan Kuil Ta Kwai.
Klaim bahwa pasukan Kamboja mengubah area-area tersebut menjadi zona pertempuran disebut tidak dapat dijadikan pembenaran atas tindakan tersebut berdasarkan prinsip proporsionalitas. Di tengah situasi konflik, sorotan juga mengarah pada peran pemuka agama. Para biksu dinilai diharapkan menjadi agen perdamaian yang dipandu oleh belas kasih, terutama ketika konflik perbatasan Thailand-Kamboja telah merenggut banyak nyawa, terutama di kalangan masyarakat miskin.
Namun, dalam situasi perang yang berlanjut, Sangha Thailand disebut lebih banyak berpaling ke dalam dan tetap berada di zona aman, sementara ujaran kebencian, permusuhan, dan rasisme menyebar di masyarakat. Kondisi ini dipandang ironis karena para pemimpin agama seharusnya membimbing masyarakat menuju perdamaian sesuai ajaran Buddha, bukan membiarkan atau bahkan memicu sentimen nasionalisme atas sengketa wilayah.
Kritik juga menyoroti sikap sebagian pemuka agama yang dinilai acuh dan gagal mengingatkan umat agar meninggalkan rasa takut dan kebencian. Kecuekan tersebut dipandang luas sebagai bentuk penerimaan terhadap kekerasan. Di tengah sorotan itu, disebut pula contoh seorang biksu yang beralih menjadi influencer dan membanggakan pendapatan online besar setelah memposting pesan anti-Kamboja.
Pemasangan gambar Buddha di atas reruntuhan patung Wisnu dinilai melampaui batas dan berpotensi memperdalam penderitaan pemeluk keyakinan berbeda. Meski Buddhisme Thailand disebut telah lama menyerap pengaruh Hindu, insiden ini dianggap menyampaikan kesan diskriminasi agama dan, bila tidak ditangani dengan baik, berisiko memicu ketegangan antara umat Buddha dan Hindu.
Di tengah eskalasi konflik, kritik menegaskan kembali harapan agar para pemuka agama menjalankan kewajiban moral untuk membimbing masyarakat menuju perdamaian dan harmoni. Kegagalan untuk memainkan peran itu dinilai sebagai kekecewaan mendalam, terutama ketika simbol-simbol suci justru terseret ke dalam sengketa perbatasan yang belum menemukan jalan damai.

