Pembangkit listrik satu-satunya di Jalur Gaza disebut berpeluang kembali beroperasi setelah berhenti lebih dari dua tahun akibat agresi Israel dan blokade yang berkepanjangan.
Ketua Komite Nasional Pengelolaan Gaza, Ali Shaath, mengatakan telah ada kepastian serta kesiapan untuk mengaktifkan kembali fasilitas pembangkit tersebut. “Kepada rakyat Jalur Gaza, kami menyampaikan kabar baik bahwa telah ada kepastian dan kesiapan bagi pembangkit listrik untuk kembali beroperasi,” ujar Shaath, Minggu (25/1/2026).
Menurut Shaath, pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan penyedia listrik. Ia juga menyebut adanya peluang kerja sama dengan mitra internasional, terutama untuk pengembangan sumber energi surya, yang ditujukan guna mempercepat pemulihan pasokan listrik.
Meski demikian, Shaath belum merinci mekanisme pemulihan, tahapan teknis yang akan ditempuh, maupun waktu pasti dimulainya kembali operasional pembangkit listrik tersebut.
Pasokan listrik di Gaza terhenti sejak agresi Israel pada Oktober 2023. Selain pemutusan aliran listrik, masuknya bahan bakar yang diperlukan untuk mengoperasikan pembangkit juga diblokade, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober tahun lalu.
Sebelum konflik pecah, ketersediaan listrik di Jalur Gaza dilaporkan hanya mencapai sekitar 212 megawatt. Angka itu jauh di bawah kebutuhan ideal sekitar 500 megawatt untuk menjamin pasokan listrik selama 24 jam penuh.

