Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa perang di Iran berpotensi mendorong lebih dari 30 juta orang kembali jatuh ke dalam kemiskinan. Peringatan itu disampaikan seiring meluasnya dampak ekonomi global yang dipicu konflik tersebut.
Menurut PBB, konflik ini diperkirakan memperburuk kerawanan pangan dan mengguncang stabilitas ekonomi dunia dalam beberapa bulan ke depan. Kepala Program Pembangunan PBB (UNDP) Alexander De Croo menyatakan dampak perang sudah mulai terasa dan kemungkinan akan terus berlanjut meskipun konflik berhenti dalam waktu dekat.
PBB menilai gangguan di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang memicu krisis global. Selat tersebut merupakan jalur penting bagi pasokan energi dan pupuk dunia. Gangguan pengiriman bahan bakar dan pupuk disebut telah menurunkan produktivitas pertanian di berbagai negara.
Kondisi itu diperkirakan berdampak langsung pada hasil panen global pada akhir tahun dan berpotensi memperburuk ancaman krisis pangan. PBB juga menyebut Timur Tengah sebagai pusat produksi pupuk dunia, dengan sekitar sepertiga pasokan global melewati Selat Hormuz.
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) turut memperingatkan bahwa krisis berkepanjangan di kawasan tersebut dapat memicu bencana pangan global. Sejumlah negara berkembang dinilai paling rentan terdampak, termasuk India, Bangladesh, Sri Lanka, Somalia, Sudan, Tanzania, Kenya, dan Mesir.
FAO memperkirakan kerawanan pangan akan mencapai tingkat tertinggi dalam beberapa bulan ke depan dan berpotensi sulit dikendalikan.