BERITA TERKINI
Pasokan Beras Global Tertekan Konflik Timur Tengah dan Risiko El Niño, Meski Produksi Diproyeksikan Rekor

Pasokan Beras Global Tertekan Konflik Timur Tengah dan Risiko El Niño, Meski Produksi Diproyeksikan Rekor

Pasokan beras global menghadapi tekanan ganda dari ketidakstabilan geopolitik dan cuaca ekstrem, meski produksi dunia diperkirakan mencapai rekor pada tahun tanam 2025–2026. Data Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menunjukkan produksi beras global diproyeksikan tumbuh 2%, namun prospek tersebut dinilai rentan terganggu oleh konflik dan fenomena El Niño yang berpotensi memicu efek berantai pada anggaran rumah tangga, terutama di Asia dan Afrika.

Salah satu sumber kekhawatiran datang dari konflik di Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasokan. Gangguan aliran bahan bakar dan pupuk melalui Selat Hormuz—jalur penting yang menghubungkan kawasan Teluk ke pasar internasional—dinilai dapat memengaruhi petani di negara pengekspor utama sekaligus menyulitkan negara yang bergantung pada impor, termasuk Filipina dan Indonesia.

Di tingkat logistik, para pedagang internasional juga menghadapi hambatan distribusi. Seorang perwakilan kelompok perdagangan beras di Singapura menyebutkan adanya kekurangan kemasan plastik PP, keterbatasan truk untuk mengangkut barang ke pelabuhan, serta gangguan transportasi laut yang memperumit pergerakan beras di pasar global.

Tekanan biaya juga dirasakan petani di Asia Tenggara. Sripai Kaew-Eam, petani berusia 60 tahun di provinsi Chai Nat, Thailand, mengatakan harga pupuk naik dari 850 baht menjadi sekitar 1.000–1.200 baht per karung. Kenaikan ini mendorong banyak petani kecil mengurangi pemakaian pupuk hingga setengahnya, yang berisiko menekan hasil panen pada musim tanam berikutnya.

Di Filipina, yang disebut sebagai pengimpor beras terbesar di dunia, produksi domestik diproyeksikan turun hingga 6 miliar ton dibandingkan rata-rata 19 miliar hingga 20 miliar ton per tahun. Arze Glipo, Direktur Eksekutif Dana Pembangunan Pedesaan Terpadu, memperingatkan bahwa pengurangan penggunaan pupuk dan luas tanam dapat menempatkan Filipina pada posisi rentan, terutama ketika sumber impor juga semakin terbatas.

Indonesia pun diperkirakan menghadapi penurunan produksi seiring potensi cuaca lebih panas dan kering pada paruh kedua tahun ini akibat El Niño. Badan Pusat Statistik memperkirakan luas panen padi pada Maret hingga Mei berkurang 10,6% atau sekitar 3,85 juta hektar. Dengan penurunan luas panen tersebut, produksi beras mentah diperkirakan turun 11,12% menjadi 20,68 juta ton.

Di tengah berbagai risiko itu, pasar beras global disebut masih relatif stabil berkat cadangan yang melimpah setelah panen raya. Data Departemen Pertanian Amerika Serikat menunjukkan India memiliki sekitar 42.000.000 ton beras, hampir 20% dari cadangan global, yang dipandang menjadi penyangga penting untuk meredam dampak penurunan produksi di wilayah lain.

Namun, Kepala Ekonom FAO Maximo Torero mengingatkan bahwa kendala pasokan global dapat memburuk menjelang akhir tahun ini dan awal tahun depan. Meski harga sebagian besar varietas beras masih stabil, tekanan dari biaya produksi dan logistik diperkirakan dapat mendorong harga naik dalam waktu dekat.