Upaya Uni Eropa (UE) menyiapkan paket sanksi terbaru terhadap Rusia dilaporkan menghadapi hambatan di internal blok. Sejumlah negara anggota menyampaikan keberatan terhadap beberapa bagian proposal, sehingga berisiko melemahkan rancangan sanksi yang tengah dibahas.
Paket yang disiapkan ini disebut sebagai sanksi ke-20 UE terhadap Rusia. Fokus utamanya adalah membatasi ekspor minyak Rusia dan menutup celah yang memungkinkan penghindaran sanksi yang sudah berlaku, termasuk melalui pelabuhan dan bank asing yang diduga digunakan dalam penjualan minyak ilegal.
Dalam rancangan tersebut, beberapa pelabuhan di luar wilayah UE menjadi perhatian, termasuk di Indonesia dan Georgia. Penargetan pelabuhan-pelabuhan ini dimaksudkan untuk menutup jalur yang dinilai dimanfaatkan Rusia dalam perdagangan minyaknya.
Namun, menurut laporan Bloomberg News pada Rabu, 18 Februari 2026, sejumlah negara anggota UE menyatakan keberatan atas proposal yang akan menghukum pelabuhan di Georgia dan Indonesia. Italia dan Hungaria secara khusus menyuarakan kekhawatiran terkait pelabuhan Kulevi di Georgia. Sementara itu, Yunani dan Malta juga menyatakan keraguan terhadap sanksi yang akan menyasar sebuah pelabuhan di Indonesia.
Perbedaan sikap juga muncul pada usulan pemberian hukuman terhadap sebuah bank di Kuba. Italia dan Spanyol disebut menyampaikan keberatan. Sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, yang berbicara secara anonim, mengatakan diskusi internal masih berlangsung.
Ketidakkompakan ini terjadi di tengah peningkatan ekspor minyak mentah Rusia. Data menunjukkan Rusia mengekspor 3,82 juta barel per hari minyak mentah dalam empat pekan hingga 19 Oktober, yang disebut sebagai angka tertinggi sejak Mei 2023. Kondisi tersebut menyoroti tantangan UE dalam menjaga kesatuan sikap terhadap Moskow, terutama dalam upaya membatasi pendapatan energi Rusia.

