Ketegangan di Minnesota meningkat setelah serangkaian insiden penembakan warga sipil oleh agen federal memicu gelombang protes, terutama di Minneapolis. Di tengah situasi yang memanas, Presiden Donald Trump mengancam akan mengaktifkan Insurrection Act, langkah yang dinilai berisiko memperburuk keadaan.
Protes meluas menyusul kematian Renee Good, ibu berusia 37 tahun, yang ditembak mati oleh agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) pada 7 Januari 2026. Kurang dari tiga minggu kemudian, Alex Pretti, seorang perawat ICU berusia 37 tahun, juga tewas ditembak agen federal pada 24 Januari 2026. Dua insiden tersebut memicu kemarahan publik dan memperluas aksi unjuk rasa.
Menanggapi kerusuhan, Trump menyatakan ancaman untuk memberlakukan Insurrection Act, undang-undang federal yang berasal dari tahun 1807 (sebagian sumber menyebut 1792) dan memberi kewenangan kepada presiden untuk mengerahkan militer di dalam negeri guna menekan “pemberontakan, pemberontakan, atau invasi.” Dalam penjelasan yang beredar, undang-undang ini juga disebut dapat menangguhkan perlindungan konstitusional yang melarang militer AS menegakkan hukum domestik.
Trump juga menuduh Gubernur Minnesota Tim Walz dan Wali Kota Minneapolis Jacob Frey “menghasut pemberontakan” melalui akun Truth Social. Ancaman tersebut muncul di tengah laporan bahwa Pentagon telah memerintahkan sekitar 1.500 tentara aktif untuk bersiap dikerahkan ke Minnesota, meski belum jelas apakah mereka akan benar-benar dikirim.
Rencana aktivasi Insurrection Act itu mendapat peringatan dari Bruce Fein, mantan Wakil Jaksa Agung Asosiasi AS pada masa pemerintahan Ronald Reagan. Fein menyebut langkah tersebut sebagai “ide yang mengerikan” karena dinilai “akan meningkatkan konflik dengan warga sipil.” Ia menekankan bahwa Insurrection Act seharusnya menjadi opsi terakhir dan jarang digunakan.
Sementara itu, Gubernur Tim Walz menyebut insiden penembakan tersebut “mengerikan” dan menegaskan penyelidikan harus dipimpin oleh negara bagian. Ia menyatakan pemerintah federal tidak dapat dipercaya untuk memimpin penyelidikan. Di sisi lain, Wali Kota Jacob Frey mengkritik pengerahan agen federal dan menyebutnya sebagai upaya untuk “memancing” para pengunjuk rasa. “Saya tidak pernah berpikir dalam sejuta tahun bahwa kami akan diserbu oleh pemerintah federal kami sendiri,” kata Frey.

