BRUSSELS — NATO mengakui tertinggal dari militer Rusia dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi medan perang yang bergerak cepat. Pengakuan itu disampaikan Laksamana Pierre Vandier, komandan utama transformasi teknis aliansi militer pimpinan Amerika Serikat tersebut.
Dalam pernyataannya di National Press Club Live, Vandier menilai kemampuan Rusia menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi di medan perang—khususnya dalam perang di Ukraina—berjalan lebih cepat dibanding NATO.
“Rusia sangat pandai dalam beradaptasi dan mungkin lebih baik daripada kami saat ini,” kata Vandier. Ia juga mendorong negara-negara anggota NATO untuk meningkatkan investasi pada teknologi militer.
Menurut Vandier, NATO saat ini cenderung berjalan dengan pola yang tidak banyak berubah. “Kami sangat statis, sangat dapat diprediksi,” ujarnya, seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (12/2/2026).
Di sisi lain, sejumlah negara NATO di Eropa disebut semakin membenarkan paket belanja militer besar-besaran dengan menggunakan persepsi ancaman dari Rusia.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyatakan bahwa klaim ancaman dari Moskow merupakan dalih untuk “mengindoktrinasi” para pembayar pajak Eropa dengan “ketakutan akan konfrontasi yang tak terelakkan dengan Rusia” guna membenarkan pembangunan militer.
Sementara itu, negara-negara Eropa Barat dilaporkan semakin banyak mengucurkan dana ke kompleks industri militer Uni Eropa untuk mengirim senjata ke Kyiv. Moskow telah lama menggambarkan perang di Ukraina sebagai perang proksi NATO.

