BERITA TERKINI
Militer Ukraina Mengaku Tarik Pasukan dari Siversk di Tengah Pengepungan Rusia

Militer Ukraina Mengaku Tarik Pasukan dari Siversk di Tengah Pengepungan Rusia

Militer Ukraina menyatakan telah menarik pasukannya dari kota Siversk, wilayah Donetsk, di tengah tekanan serangan Rusia. Dalam pernyataannya, militer Ukraina mengatakan langkah tersebut diambil “untuk menyelamatkan nyawa tentara kami dan kemampuan tempur unit”, seraya menambahkan bahwa pasukan Rusia memiliki “keunggulan signifikan dalam jumlah personel”.

Perebutan Siversk dinilai membawa Rusia lebih dekat ke dua kota yang disebut sebagai bagian dari “sabuk benteng” terakhir di Donetsk yang masih dikuasai Ukraina, yakni Sloviansk dan Kramatorsk.

Militer Ukraina juga menyebut pasukan Rusia terus melakukan “aksi ofensif aktif” di area Siversk “meskipun mengalami kerugian yang signifikan”. Ukraina menambahkan bahwa “pasukan pertahanan Ukraina telah melemahkan musuh selama pertempuran untuk Siversk”.

Siversk, yang sebelum invasi Rusia berpenduduk sekitar 11.000 orang, dilaporkan telah praktis hancur setelah berbulan-bulan pertempuran sengit. Dua minggu lalu Rusia sempat melaporkan telah menguasai kota tersebut, namun Ukraina membantah klaim itu pada saat itu.

Di sisi lain, para pejabat sebelumnya mengatakan tiga orang—termasuk seorang anak kecil—tewas dalam serangan drone dan rudal Rusia besar-besaran semalam di Ukraina.

Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Moskow saat ini menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina. Di kawasan Donbas, Rusia disebut menguasai sekitar 75% wilayah Donetsk dan sekitar 99% wilayah Luhansk.

Presiden Rusia Vladimir Putin berulang kali memperingatkan bahwa pasukan Ukraina harus menarik diri dari seluruh Donbas atau Rusia akan merebutnya, sekaligus menolak kompromi mengenai cara mengakhiri perang.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky disebut berada di bawah tekanan berat dari Presiden AS Donald Trump untuk menyerahkan seluruh Donbas kepada Rusia dalam negosiasi perdamaian yang dipimpin Washington yang sedang berlangsung.