Calon kanselir Jerman berikutnya, Friedrich Merz, melakukan kunjungan mendadak ke Paris untuk bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Rabu (26/2). Pertemuan ini berlangsung beberapa hari setelah blok konservatif Uni Kristen Demokrat (CDU) dan Uni Kristen Sosial (CSU) menjadi peraih suara terbesar dalam pemilu Jerman.
Dalam pertemuan tersebut, Merz dan Macron dilaporkan membahas pergeseran kebijakan Amerika Serikat terkait perang di Ukraina serta isu-isu keamanan Eropa. Merz juga mengunggah foto bersama Macron di media sosial pada malam hari yang sama, sembari menyampaikan terima kasih atas “persahabatan” dan “kepercayaan” dalam hubungan Jerman-Prancis. “Bersama-sama negara kita dapat mencapai hal-hal besar untuk Eropa,” tulis Merz di Instagram.
Kunjungan ke Paris ini menjadi perjalanan luar negeri pertama Merz sejak aliansi CDU/CSU memenangkan pemilu pada Minggu (23/2) dengan 28,5% suara dan meraih 208 kursi di Bundestag. Namun, dari total 630 kursi, perolehan tersebut belum cukup untuk membentuk pemerintahan sendiri.
Partai terbesar berikutnya adalah Alternative für Deutschland (AfD) dengan 152 kursi. Meski demikian, blok konservatif yang dipimpin Merz telah menyatakan tidak akan membentuk koalisi dengan partai sayap kanan tersebut. Karena itu, CDU/CSU diperkirakan akan menjajaki koalisi dengan Partai Sosial Demokrat (SPD) yang dipimpin Kanselir Olaf Scholz, yang meraih sekitar 16,4% suara.
Pembicaraan koalisi diperkirakan dimulai pada saat yang dinilai krusial bagi Eropa. Sejumlah pemimpin Eropa khawatir Presiden AS Donald Trump dapat mendorong kesepakatan damai dengan Rusia tanpa keterlibatan Eropa. Pada awal pekan ini, Washington dua kali berpihak pada Moskow dalam pemungutan suara di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Situasi tersebut terjadi ketika Macron mengunjungi Gedung Putih dan menegaskan bahwa kesepakatan damai tidak dapat dicapai tanpa persetujuan Ukraina. Namun, masih belum jelas apakah Macron dan Trump memiliki pandangan yang sama, meski keduanya terlihat hangat saat berbicara kepada media.
Di Jerman, Merz diperkirakan tidak akan mendampingi Scholz dalam pertemuan puncak Uni Eropa yang dijadwalkan berlangsung di Brussels pada 6 Maret. Juru bicara Scholz, Steffen Hebestreit, menyatakan pada Rabu (26/2) bahwa kandidat kanselir dari CDU/CSU tidak memerlukan “magang di pemerintahan” atau “jabat tangan” sebelum mengambil alih kekuasaan. Pemerintah juga menyebut pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas pergeseran sikap Washington terhadap Ukraina.
Sementara itu, SPD mencatat hasil terburuk dalam pemilu federal selama lebih dari satu abad dan mengalami penurunan suara terbesar dibanding pemilu-pemilu sebelumnya. Scholz telah menyatakan tidak akan menjabat dalam pemerintahan berikutnya.

