BERITA TERKINI
Menlu Turki Intensifkan Diplomasi untuk Dorong Penghentian Perang AS-Israel dengan Iran

Menlu Turki Intensifkan Diplomasi untuk Dorong Penghentian Perang AS-Israel dengan Iran

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengintensifkan upaya diplomasi melalui serangkaian panggilan telepon terpisah pada Minggu dengan sejumlah mitra internasional, termasuk Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas, serta pejabat Amerika Serikat. Menurut sumber Kementerian Luar Negeri Turki, pembicaraan tersebut berfokus pada langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk mengakhiri perang yang dimulai Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Sumber diplomatik Turki tidak merinci isi masing-masing percakapan. Namun, Fidan sebelumnya menyampaikan peringatan bahwa Israel dapat berupaya memperpanjang konflik, sementara negara-negara Teluk “mungkin terpaksa mengambil tindakan” apabila situasi saat ini terus berlanjut.

Dalam kunjungan regional yang mencakup Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA), Fidan mengatakan kepada wartawan di Ankara pada Sabtu, 21 Maret 2026, bahwa negara-negara Teluk menilai perang masih berpotensi berlanjut selama dua hingga tiga minggu ke depan. Ia menambahkan, negara-negara tersebut menekankan pentingnya peran Amerika Serikat dalam menentukan durasi konflik.

Fidan juga menyampaikan bahwa negara-negara Teluk sejak awal menegaskan tidak akan mengizinkan ruang udara atau pangkalan mereka digunakan untuk serangan terhadap Iran, serta tidak ingin menjadi pihak dalam perang. Dalam penilaiannya, negara-negara Teluk turut menyoroti bahwa Iran sengaja menargetkan bukan hanya pangkalan militer, tetapi juga infrastruktur sipil dan sasaran ekonomi.

Menurut Fidan, terdapat penilaian yang berkembang bahwa posisi awal Amerika Serikat dan Israel mulai berbeda, yang dapat berdampak pada lamanya perang. “Israel akan berusaha memengaruhi AS dan mencoba mencegah tercapainya gencatan senjata atau perdamaian dalam waktu dekat. Penilaian yang berkembang menunjukkan posisi awal AS dan Israel mulai menyimpang. Ini, pada gilirannya, bisa memperpanjang perang,” kata Fidan.

Ia menambahkan, “Israel mungkin menerapkan kebijakan memperpanjang perang sedapat mungkin untuk memberikan kerusakan yang lebih besar pada Iran.”

Di sisi lain, sejak awal Maret Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar kapal. Jalur transit minyak utama itu biasanya menangani sekitar 20 juta barel per hari dan sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair global. Penutupan tersebut mendorong kenaikan biaya pengiriman dan asuransi, meningkatkan harga minyak, serta memicu kekhawatiran ekonomi global.

Ketegangan regional meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.