BERITA TERKINI
Menkeu: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11% pada 2025, Defisit 2,9% di Tengah Tekanan Global

Menkeu: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11% pada 2025, Defisit 2,9% di Tengah Tekanan Global

Jakarta — Pemerintah mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,11% pada 2025 di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan capaian tersebut disertai dengan defisit anggaran yang tetap rendah, yakni 2,9% dari produk domestik bruto (PDB), sehingga dinilai mencerminkan pengelolaan fiskal yang hati-hati.

Purbaya menyampaikan hal itu dalam konferensi pers APBN Kita di kantornya, Jakarta Pusat, Senin, 23 Februari 2026. Ia menekankan pemerintah berupaya menjaga rasio defisit dan rasio utang agar tetap terkendali dibandingkan negara-negara sekelas (peers).

Dalam perbandingan yang disampaikan Purbaya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 memang berada di bawah Vietnam yang mencapai 8,02% dan Malaysia 5,17%. Namun, ia menilai pertumbuhan yang lebih tinggi di negara tersebut diiringi dengan defisit yang lebih besar.

“Kalau kita lihat defisitnya berapa? Kita 2,9% dari PDB, Vietnam 3,6%, Malaysia 6,41%. Jadi, mereka membayar pertumbuhan dengan ongkos yang besar sekali dibandingkan kita,” kata Purbaya.

Menurutnya, jika mengacu pada prinsip kehati-hatian fiskal, defisit idealnya berada di bawah 3% dari PDB. Ia menilai Vietnam dan Malaysia berada di atas batas tersebut, sementara Indonesia berupaya menjaga keseimbangan antara dorongan pertumbuhan dan stabilitas fiskal.

“Kalau dibandingkan standar nasional kehati-hatian fiskal, kelihatan sekali Vietnam dan Malaysia melanggar di atas 3% dua-duanya. Jadi, kita bisa menciptakan pertumbuhan dengan memastikan prinsip kehati-hatian lebih terjaga. Jadi, lebih jago dari negara-negara itu. Waktu ekonomi turun kita kasih stimulus, tapi kehati-hatian fiskal tidak kita tinggalkan,” ujarnya.

Purbaya juga menegaskan rendahnya defisit tidak berarti pemerintah menahan belanja pembangunan. Ia menyebut anggaran tetap dialokasikan untuk sektor prioritas seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan, namun dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan negara.

Pemerintah menilai stabilitas makro yang terjaga turut mendukung kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Di sisi lain, Purbaya mengingatkan tantangan eksternal masih besar dan persaingan antarnegara semakin ketat, sehingga upaya memperkuat daya saing tetap diperlukan.