Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme terhadap ketahanan ekonomi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global dan volatilitas pasar. Ia menilai fundamental ekonomi nasional tetap kuat karena disiplin fiskal serta dukungan dari sektor domestik.
Purbaya menjelaskan dinamika global saat ini turut dipengaruhi kebijakan moneter Amerika Serikat dan melemahnya konsumsi di sejumlah negara besar. Meski demikian, ia menilai ekonomi dunia masih menunjukkan resiliensi yang ditopang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam konferensi pers APBNKITA di Jakarta, Senin, 23 Februari 2026, Purbaya mengatakan Indonesia mampu menjaga pertumbuhan sekaligus mempertahankan defisit yang rendah. “Indonesia mampu menjaga pertumbuhan sekaligus mempertahankan defisit rendah. Kita bisa menciptakan pertumbuhan dengan ongkos fiskal yang tetap terjaga,” ujarnya.
Ia mencontohkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,4 persen. Menurutnya, meski angka tersebut sedikit di bawah beberapa negara di kawasan, rasio defisit Indonesia sekitar 2,9 persen terhadap PDB dinilai lebih rendah dibanding Vietnam dan Malaysia yang mencatat defisit lebih tinggi. Purbaya menyebut hal itu menunjukkan kualitas pertumbuhan Indonesia lebih sehat karena tidak bergantung pada pembiayaan besar.
Data pemerintah, lanjutnya, menunjukkan ekonomi domestik tetap solid. Konsumsi rumah tangga tumbuh sekitar 5 persen, investasi meningkat lebih dari 5 persen, dan ekspor naik lebih dari 7 persen yang didorong produk bernilai tambah tinggi.
Dari sisi sektoral, pertanian disebut menjadi salah satu penopang utama dengan pertumbuhan signifikan, termasuk subsektor pangan dan peternakan.
Indikator kesejahteraan juga disebut membaik. Jumlah penduduk bekerja mencapai 147,9 juta orang, sementara tingkat pengangguran turun menjadi sekitar 4,17 persen per November 2025.
Di sektor eksternal, neraca perdagangan mencatat surplus beruntun selama 68 bulan dan cadangan devisa dinilai tetap memadai. Hingga Februari 2026, arus modal asing masuk sekitar Rp18,4 triliun yang disebut mencerminkan kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi nasional.
“Karena fondasi ekonomi kita kuat, kepercayaan investor global lebih mudah pulih meskipun sempat ada tekanan eksternal,” kata Purbaya.
Terkait stabilitas harga, inflasi Januari 2026 tercatat sekitar 3,55 persen secara tahunan, meningkat dibanding bulan sebelumnya. Pemerintah menilai kenaikan tersebut bersifat sementara akibat efek basis rendah tahun lalu dan faktor musiman. Purbaya menambahkan inflasi inti dinilai tetap rendah sehingga memberi ruang bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan tanpa risiko ekonomi overheating.
Pemerintah juga menyatakan akan menjaga stabilitas harga pangan melalui penguatan distribusi dan pasokan. Selain itu, Purbaya menekankan pentingnya koordinasi kebijakan fiskal pemerintah dengan kebijakan moneter Bank Indonesia. Ia menyebut sinergi tersebut terlihat dari pertumbuhan likuiditas yang tetap kuat serta penyaluran kredit yang mulai meningkat dengan suku bunga yang kompetitif.
“Ruang ekonomi kita masih cukup longgar untuk tumbuh lebih tinggi tanpa memicu inflasi berlebihan,” ujarnya.

