Perkembangan teknologi digital dalam hampir satu dekade terakhir mendorong kemunculan perusahaan rintisan (startup) di berbagai belahan dunia. Fenomena ini turut terlihat di Asia Tenggara, ketika ekosistem startup terus bertumbuh dan melahirkan banyak pemain baru.
Di Indonesia, jumlah startup tercatat menempatkan negara ini sebagai pemilik startup terbanyak kelima di dunia, dengan total 2.195 startup berdasarkan Startup Ranking 2020. Sementara itu, The Global Startup Ecosystem Report 2020 mencatat bahwa dari 12 startup unicorn di Asia Tenggara, lima di antaranya berasal dari Indonesia.
Di luar Asia Tenggara, pertumbuhan startup juga berlangsung di kawasan lain seperti Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan. Sejumlah perusahaan rintisan di wilayah tersebut menarik perhatian, terutama di sektor transportasi dan layanan berbasis mobilitas.
Timur Tengah: Swvl dan model transportasi berbasis bus
Di Timur Tengah, salah satu startup yang disorot adalah Swvl, perusahaan berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab. Swvl menyediakan layanan ride sharing atau transportasi on-demand dan didirikan pada 2017. Perusahaan ini disebut telah berekspansi ke beberapa negara, antara lain Mesir, Arab Saudi, Yordania, Kenya, dan Pakistan.
Salah satu hal yang membedakan Swvl adalah penggunaan bus atau minivan yang sudah tidak terpakai, kemudian direstorasi agar dapat kembali digunakan sebagai armada transportasi.
Swvl juga dilaporkan hampir mencapai status unicorn setelah mencatat pendapatan kotor (gross revenue) sebesar US$79 juta atau sekitar Rp1,1 triliun pada Desember 2020. Angka ini meningkat 55% dibandingkan Februari 2020 yang tercatat sebesar US$51 juta atau sekitar Rp719 miliar.
Afrika: Treepz dan SafeBoda menggarap layanan mobilitas
Di Afrika, dua startup yang disebut menonjol adalah Treepz dan SafeBoda. Treepz merupakan startup asal Nigeria, Afrika Barat, yang bergerak di bidang transportasi on-demand dengan mengandalkan layanan bus dan minivan. Perusahaan ini membawa misi meningkatkan prediktabilitas layanan transportasi, termasuk membantu pengguna mengetahui kapan bus tiba dan memberi kepastian tempat duduk saat bepergian.
Sementara itu, SafeBoda adalah startup ride hailing asal Uganda, Afrika Timur, yang didirikan pada Juli 2017. SafeBoda menyediakan moda transportasi berupa motor dan mobil, dan disebut mengalami perkembangan yang cukup tinggi. Dalam perkembangannya, Gojek bersama Allianz X disebut melakukan pendanaan modal untuk SafeBoda pada 7 Mei 2019.
Asia Selatan: Jatiri fokus pada pelacakan transportasi umum
Dari Asia Selatan, muncul Jatiri, startup asal Bangladesh yang didirikan pada 2019. Jatiri bergerak di bidang pelacakan transportasi umum. Startup ini juga dilaporkan berhasil mengumpulkan pendanaan Pra-Seri A senilai US$1,2 juta atau sekitar Rp17 miliar.
Rangkaian contoh tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan startup tidak hanya terjadi di kawasan dengan ekosistem digital yang sudah matang. Di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan, sejumlah perusahaan rintisan mulai membangun layanan yang menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat setempat, sekaligus memperlihatkan potensi pengembangan bisnis berbasis teknologi di wilayah masing-masing.

