BERITA TERKINI
Media China Soroti ‘Sindrom Takut Jepang’ dan Korea Selatan dalam Sepak Bola

Media China Soroti ‘Sindrom Takut Jepang’ dan Korea Selatan dalam Sepak Bola

Sehari sebelum laga final, surat kabar China 163 menerbitkan artikel yang memicu perdebatan dengan mengangkat istilah “Kong Han Zheng” (ketakutan terhadap Korea) dan “Kong Ri Zheng” (ketakutan terhadap Jepang) dalam sepak bola China. Istilah tersebut menggambarkan kekhawatiran yang, menurut sejumlah pihak di China, masih membayangi tim-tim mereka saat menghadapi dua rival utama di Asia Timur: Jepang dan Korea Selatan.

Dalam artikel di 163.com, disebutkan bahwa China mulai perlahan mengatasi “ketakutan terhadap Korea Selatan” setelah tim U23 mereka mengalahkan Korea Selatan pada Piala Panda, sebuah turnamen persahabatan. Namun, di kolom komentar, banyak penggemar menilai kesimpulan itu terlalu optimistis karena bertumpu pada hasil laga uji coba.

Di level tim nasional, catatan China melawan Korea Selatan dinilai masih jauh dari membaik. Dalam enam tahun terakhir, China disebut kalah dalam enam pertemuan beruntun melawan Korea Selatan, tanpa mampu mencetak satu gol pun. Kekalahan terakhir—0-3 pada Kejuaraan Asia Timur Juli lalu—menjadi sorotan karena bukan hanya rentetan hasil buruk, melainkan juga kemandekan gol yang terus berulang.

Situasi serupa juga terjadi saat menghadapi Jepang. Dari delapan pertemuan, China tercatat kalah tujuh kali dan hanya sekali imbang. Hasil imbang itu pun disebut tidak terlalu menggembirakan karena Jepang menurunkan skuad cadangan pada Kejuaraan Asia Timur 2022.

Dalam kualifikasi Piala Dunia 2026, China juga mengalami pukulan besar saat kalah 0-7 dari Jepang pada pertandingan pertama di tahap ketiga. Saat itu, media China menilai peluang mereka untuk mewujudkan mimpi tampil di Piala Dunia seolah runtuh hanya setelah satu pertandingan.

Di level usia muda, kekhawatiran sempat dinilai sedikit berkurang. Salah satu alasannya, menurut laporan tersebut, Jepang dan Korea Selatan tidak selalu menunjukkan antusiasme tinggi terhadap turnamen usia muda di Asia, sementara China juga jarang melangkah jauh. Namun, pada final Kejuaraan U23 Asia 2026—penampilan pertama China di partai puncak ajang tersebut—China kembali kalah telak dari Jepang dengan skor 0-4 pada malam 24 Januari.

Sejumlah komentar di media China kembali mengaitkan hasil itu dengan persoalan mental. Dalam komentar yang dimuat Sina, seorang penggemar menulis bahwa “Kong Ri Zheng” kembali muncul, seraya menyebut setiap kali menghadapi Korea Selatan atau Jepang, para pemain China terlihat gemetar.

Penulis sepak bola veteran Han Qiaosheng juga menyinggung aspek psikologis dalam analisisnya di Weibo. Ia menilai kekalahan tidak semata soal teknik, melainkan juga mentalitas: pemain dianggap takut melakukan kontak fisik, tidak berani menguasai bola, dan kerap menyapu bola tanpa arah—yang ia sebut sebagai tanda ketakutan.

Sementara itu, mantan pelatih Gao Hongbo menekankan rapuhnya dampak mental dibanding perbaikan keterampilan. Ia mengatakan menutup kesenjangan kemampuan bisa memakan waktu 10 tahun, tetapi mentalitas yang buruk selama setahun dapat membuat semuanya berantakan. Pernyataan ini, sebagaimana digambarkan dalam laporan tersebut, tercermin pada final U23: China tampil gigih sepanjang turnamen, tetapi setelah kebobolan gol awal saat melawan Jepang, kepercayaan diri dan daya tahan mereka runtuh.

Perdebatan tentang “sindrom takut” ini menunjukkan bahwa sebagian kalangan di China melihat tantangan terbesar mereka bukan hanya pada kualitas permainan, tetapi juga pada beban psikologis ketika berhadapan dengan dua kekuatan utama sepak bola Asia Timur.