Presiden Venezuela Nicolas Maduro menuduh Amerika Serikat mendalangi operasi pergantian rezim di negaranya. Tuduhan itu disampaikan Maduro pada Kamis saat berbicara dalam upacara penutupan Kongres Nasional Koki dan Koki Tanah Air di Plaza Bicentenario, Caracas.
Dalam pidatonya, Maduro mengatakan Presiden AS Donald Trump mengizinkan Badan Intelijen Pusat (CIA) melakukan operasi di Venezuela dengan dalih “memerangi perdagangan narkoba.” Ia menyebut CIA “telah dikirim ke Venezuela untuk pergantian rezim,” serta menuduh Washington berupaya menggulingkan pemerintahannya.
Maduro juga mengklaim CIA telah berkonspirasi melawan Venezuela selama 26 tahun dan menyatakan bahwa “semua kudeta di Amerika Latin” didukung oleh badan tersebut. Ia menambahkan, untuk pertama kalinya pemerintahan AS secara terbuka menyatakan niat menyerang negara lain, dengan tujuan menakut-nakuti, memecah belah, dan melemahkan semangat rakyat Venezuela melalui perang psikologis.
Maduro menegaskan kepemimpinan politik dan militer di negaranya tetap solid. Ia mengatakan 6,2 juta warga Venezuela menjadi bagian dari Sistem Pertahanan Terpadu Nasional dan akan melawan ancaman eksternal apa pun.
Dalam kesempatan yang sama, Maduro mengkritik kebijakan intervensionis Washington. Menurut dia, jika Venezuela tidak memiliki sumber daya seperti minyak, gas, emas, tanah subur, dan air, “kaum imperialis bahkan tidak akan melihat negara kami.”
Sebelumnya, Trump mengonfirmasi pemberian wewenang kepada CIA untuk melakukan operasi di Venezuela sebagai bagian dari kampanye antinarkotika pemerintahannya. Dalam beberapa bulan terakhir, AS juga mengerahkan pasukan angkatan laut, termasuk kapal selam dan kapal perang, di lepas pantai Venezuela berdasarkan arahan tersebut.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa pasukan negaranya “siap untuk operasi di Venezuela, termasuk pergantian rezim.” Sebagai respons, Maduro memobilisasi 4,5 juta anggota milisi dan menyatakan kesiapan untuk menangkal serangan apa pun.
Serangan AS terhadap kapal-kapal yang diduga terkait perdagangan narkoba yang berlayar di dekat perairan Venezuela turut menuai kritik dari Caracas dan komunitas internasional, yang menyebutnya sebagai “pelanggaran hukum internasional.”

