Petenis unggulan ke-22, Luciano Darderi, mengalami kram parah saat tampil dalam wawancara televisi usai meraih kemenangan di putaran ketiga Australia Terbuka. Insiden itu terjadi setelah ia menaklukkan Karen Khachanov dengan skor 7-6, 3-6, 6-3, 6-4 pada Sabtu.
Darderi bermain di lapangan terbuka dalam kondisi panas, dengan suhu setidaknya mencapai 36°C. Meski sudah berada di dalam ruangan untuk sesi wawancara, petenis berusia 23 tahun tersebut tampak merasakan dampak cuaca ekstrem. Saat berbincang dengan presenter Chris Stubbs dan mantan petenis AS Nicholas Monroe dalam siaran Blue Zone Open, Darderi tiba-tiba meringis dan memegangi kakinya, termasuk bagian tendon Achilles, sebelum percakapan mendadak terhenti.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Stubbs. Ia kemudian menambahkan bahwa kondisi seperti itu memang menjadi tantangan yang dihadapi para pemain. Stubbs juga menyebut mereka akan memberi Darderi waktu sejenak untuk menenangkan diri.
Setelah kram mereda, Darderi menggambarkan rasa sakit yang dialaminya. Ia mengatakan rasanya “seperti anjing menggigit otot paha saya”.
Darderi dijadwalkan menghadapi petenis peringkat dua dunia sekaligus rekan senegaranya, Jannik Sinner, pada putaran keempat. Sinner sebelumnya mengalahkan Eliot Spizzirri dalam pertandingan yang juga sempat terganggu oleh suhu tinggi di lapangan.
Dalam keterangannya, Sinner menjelaskan bagaimana ia berupaya mengatasi kondisi panas saat pertandingan. “Saya sendirian. Tidak ada pengobatan. Anda tidak bisa mendapatkan pengobatan selama ini. Jadi saya melakukan peregangan. Saya berbaring selama lima menit dan mencoba mengendurkan otot-otot,” kata petenis berusia 24 tahun itu. Menurutnya, cara tersebut membantu menurunkan suhu tubuh, meski tidak banyak hal lain yang bisa dilakukan.
Pertandingan Darderi melawan Sinner dijadwalkan berlangsung pada Senin di Margaret Court Arena yang berkapasitas sekitar 7.500 penonton. Laga itu menjadi kali pertama dalam dua tahun Sinner bermain di lapangan pertunjukan kedua.
Sinner menyatakan antusias menghadapi Darderi. Ia juga menyinggung kebanggaannya melihat wakil Italia melaju jauh di turnamen. “Tentu saja pertandingan berikutnya, mari kita lihat apa yang terjadi,” ujarnya. “(Kami) hanya berlatih sekali, jadi tidak banyak. Namun saya sangat senang bisa memiliki setidaknya satu orang Italia di perempat final. Bahkan di Grand Slam pun itu luar biasa.”

