BERITA TERKINI
LPOI Serukan Konsolidasi Dunia Islam untuk Dorong Perdamaian Global dan Peradaban Humanis

LPOI Serukan Konsolidasi Dunia Islam untuk Dorong Perdamaian Global dan Peradaban Humanis

Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menegaskan pentingnya konsolidasi dunia Islam untuk mewujudkan perdamaian global dan peradaban humanis yang berkelanjutan. Menurut LPOI, langkah ini dinilai strategis untuk merespons konflik, ketegangan geopolitik, serta tantangan antarbangsa yang terus meningkat.

LPOI menyebut perdamaian dan peradaban humanis sebagai harapan bersama seluruh bangsa demi terciptanya kehidupan berkelanjutan yang membawa kemaslahatan. Karena itu, berbagai bentuk perang, konflik, dan ketegangan geopolitik dinilai perlu segera dihentikan demi masa depan dunia yang lebih baik.

Dalam upaya konkret, LPOI mendorong konsolidasi people to people antarbangsa untuk memperkuat visi Islam Rohmatan Lil Aalamiin sebagai rahmat bagi seluruh alam. Konsolidasi ini juga diarahkan untuk merajut ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insaniyah dalam membangun persaudaraan lintas umat serta kemanusiaan global.

LPOI menggelar dialog publik sekaligus menandatangani nota kesepahaman dengan Muassasah Risalatussalam Al Alam yang berbasis di Mesir pada Jumat, 1 Mei 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Pesantren Al Tsaqofah dan dihadiri delegasi Mesir yang dipimpin DR. Majdy Thontowy, pimpinan LPOI, serta para santri.

Dalam kesempatan itu, Prof DR KH Said Aqil Siroj MA menekankan konsolidasi dunia Islam perlu segera dilakukan untuk menghadapi tantangan global. Ia menyatakan upaya menghadirkan Islam sebagai kekuatan peradaban global yang damai dan menyejukkan harus terus digaungkan demi kemanusiaan.

“Perdamaian dan Peradaban Humanis harus menjadi pilar utama perjuangan kaum muslimin sepanjang masa. Islam hadir disemua peradaban di dunia dengan misi salam (misi perdamaian) dan misi Insan Kamil Mukamil (the perfect human being) misi kemanusiaan yang memanusiakan manusia,” ujar Said Aqil dalam penjelasannya, Jumat, 1 Mei 2026.

Ia juga menilai dialog peradaban yang bernafaskan perdamaian perlu segera digelar agar ketegangan geopolitik tidak berkembang menjadi perang dunia ketiga. Menurutnya, kesadaran global serta partisipasi lintas negara perlu diperkuat agar konflik internasional dapat diakhiri secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Said Aqil menambahkan, diperlukan terobosan strategis yang mampu menjembatani perbedaan kepentingan serta menghadirkan juru damai terpercaya yang diterima secara global. Ia juga menekankan aktor negara dan nonnegara perlu bekerja bersama menghimpun kekuatan strategis agar konflik tidak meluas menuju kehancuran total yang merugikan semua pihak.

Selain itu, ia menegaskan tindakan provokatif, intimidatif, serta pelanggaran hukum internasional harus dihentikan. Dalam pandangannya, Indonesia berpotensi menjadi konsolidator perdamaian dunia.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal LPOI Gus Imam Pituduh menyampaikan kerja sama LPOI dengan Risalatussalam Al Alam difokuskan pada lima program utama strategis. Program tersebut meliputi diplomasi budaya dan peradaban Islam, dakwah transnasional berbasis narasi moderasi, serta pengembangan riset dan publikasi pusat studi.

Kerja sama itu juga mencakup pertukaran Indonesia–Mesir serta pendidikan formal dan informal untuk memperkuat hubungan antarbangsa. Menurut Gus Imam, visi kerja sama tersebut didedikasikan untuk membangun ekosistem global pemikiran Islam moderat yang berpengaruh dan berkelanjutan, dengan sasaran peningkatan sumber daya manusia, penguatan jaringan internasional, serta kontribusi nyata bagi perdamaian global.

“Visi kerjasama ini didedikasikan untuk membangun ekosistem global pemikiran islam moderat yang berpengaruh dan berkelanjutan. Dengan sasaran strategis untuk peningkatan sumber daya manusia, penguatan jaringan internasional dan kontribusi nyata dalam perdamaian global,” kata Gus Imam.

Di kesempatan yang sama, DR. Majdy Thontowy menyampaikan bahwa sebagai tindak lanjut kerja sama, pihaknya akan mengundang LPOI di bawah pimpinan Prof DR KH Said Aqil Siroj MA ke Mesir. Agenda yang direncanakan mencakup dialog peradaban, pemberian beasiswa studi ke Mesir bagi santri, publikasi karya ilmiah bersama, serta penguatan kerja perdamaian global.

Majdy juga menyatakan Indonesia dan Mesir diproyeksikan menjadi episentrum peradaban Islam masa depan dengan peran strategis sebagai juru damai konflik global. Ia menegaskan Islam perlu tampil sebagai rahmat bagi semua dengan wajah humanis, damai, dan toleran sebagaimana praktik Islam di Indonesia.