BERITA TERKINI
Lima Faktor yang Diproyeksikan Membentuk Arah AI di Asia Pasifik pada 2026

Lima Faktor yang Diproyeksikan Membentuk Arah AI di Asia Pasifik pada 2026

Organisasi di kawasan Asia Pasifik diproyeksikan memasuki 2026 dengan pendekatan yang semakin matang terhadap kecerdasan buatan (AI). Jika pada tahun-tahun sebelumnya AI masih banyak berada pada fase eksperimen, perusahaan kini mulai memusatkan perhatian pada bagaimana teknologi tersebut dapat dioperasionalkan secara bertanggung jawab, berskala besar, dan menghasilkan dampak bisnis yang terukur.

Integrasi AI juga disebut tidak lagi bersifat tambahan, melainkan menjadi bagian inti dari platform digital perusahaan. Country Manager Indonesia Red Hat, Vony Tjiu, menilai pergeseran ini menandai era baru AI yang lebih praktis dan terarah, seiring organisasi menginginkan sistem yang sesuai dengan kebutuhan industri, data, serta realitas operasional masing-masing.

Menurut Vony, perusahaan telah melampaui fase euforia AI generatif dan bergerak menuju pembuktian nilai nyata. “Fokusnya adalah bagaimana AI dapat menjawab kebutuhan bisnis yang spesifik dan terukur,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip dari pernyataannya.

Ia menjelaskan, pada 2026 AI tidak lagi didominasi oleh model serba bisa, melainkan oleh sistem yang dirancang khusus, berukuran tepat, dan dapat dijelaskan. Studi IDC juga disebut menunjukkan sekitar 70 persen organisasi di Asia Pasifik memperkirakan agentic AI akan mendisrupsi model bisnis mereka dalam 18 bulan ke depan.

Tren tersebut dinilai sejalan dengan prediksi bahwa pada 2027 sekitar 40 persen organisasi akan memanfaatkan custom silicon, termasuk prosesor ARM dan chip AI khusus, untuk mengoptimalkan performa sekaligus efisiensi biaya.

Di sektor jasa keuangan, AI yang tepat guna disebut berpotensi mengotomatisasi proses berskala besar, mulai dari onboarding nasabah, pemantauan transaksi, hingga analisis penipuan. Vony menyebut, bagi institusi yang menghadapi tekanan regulasi tinggi, AI yang dirancang khusus menawarkan jalur yang lebih jelas untuk meningkatkan akurasi, menekan biaya, dan memperkuat manajemen risiko.

Perkembangan AI juga mendorong perubahan strategi infrastruktur. Virtualisasi tradisional yang dirancang untuk beban kerja seragam dinilai tidak lagi memadai. Pada 2026, perusahaan diperkirakan mengadopsi pendekatan virtualisasi yang menggabungkan virtual machine, container, dan komputasi khusus dalam satu model operasional untuk menopang aplikasi lama sekaligus beban kerja AI baru.

Dari sisi arsitektur, hybrid cloud diproyeksikan menjadi standar operasional AI modern. Kebutuhan akan data real time, komputasi khusus, dan sistem terdistribusi membuat perusahaan perlu menjalankan AI di berbagai lingkungan sekaligus, termasuk on-premise, cloud, maupun edge. “Tidak akan ada satu tempat tunggal untuk menjalankan AI. Organisasi yang mampu mengelola AI di mana saja akan berada pada posisi terbaik untuk menggali nilainya,” kata Vony.

Faktor lain yang dipandang menentukan adalah penguatan tata kelola. Di Asia Pasifik, regulasi dan kerangka etika AI semakin memengaruhi strategi digital perusahaan. Di Indonesia, pemerintah disebut telah menyiapkan regulasi Peta Jalan dan Etika AI pada awal 2026, melengkapi Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020–2045. Otoritas Jasa Keuangan juga telah merilis panduan kode etik AI yang bertanggung jawab di sektor teknologi keuangan.

Vony menekankan, tata kelola yang kuat bukanlah penghambat inovasi, melainkan fondasi agar AI dapat diadopsi secara berkelanjutan. Ia menyebut perusahaan akan semakin memprioritaskan sistem AI yang dapat diaudit, dimonitor, dan dikelola di lingkungan hybrid, sehingga setiap keputusan dapat ditelusuri dan perilaku model tetap terkendali.

Di luar teknologi dan regulasi, faktor manusia dinilai tetap menjadi penentu. Kesenjangan talenta di bidang AI, cloud-native, dan keamanan siber masih menjadi tantangan utama di Asia Pasifik. Vony menyoroti peran komunitas open source dalam menyediakan pengetahuan bersama, transparansi, dan kolaborasi lintas negara.

“Keberhasilan AI, termasuk agentic AI, tidak hanya ditentukan oleh kekuatan model, tetapi juga oleh infrastruktur, tata kelola, dan keahlian yang mendukungnya,” kata Vony. Ia menambahkan, keterbukaan, fleksibilitas, dan kolaborasi diperkirakan menjadi prinsip utama yang membantu organisasi bergerak dari potensi menuju hasil nyata dan terukur pada era AI berikutnya.