BERITA TERKINI
Lima Aplikasi Windows yang Masih Sulit Digantikan di Linux, Jadi Tantangan Migrasi Profesional

Lima Aplikasi Windows yang Masih Sulit Digantikan di Linux, Jadi Tantangan Migrasi Profesional

Perkembangan Linux dalam lima tahun terakhir dinilai menunjukkan kemajuan, termasuk lewat inisiatif seperti Proton dari Valve yang memperluas pengalaman bermain gim. Namun, adopsi Linux secara lebih luas masih menghadapi hambatan, terutama di kalangan profesional, karena sejumlah aplikasi penting yang menjadi standar industri belum tersedia atau belum didukung penuh di platform tersebut.

Upaya peningkatan kompatibilitas memang terus dilakukan, termasuk melalui perubahan pada lingkungan desktop serta penggunaan server tampilan seperti Wayland dan X11. Meski begitu, pangsa pasar Linux yang relatif kecil disebut menjadi salah satu faktor mengapa dukungan aplikasi dari pengembang besar tidak sekuat di Windows. Akibatnya, Windows masih kerap menjadi pilihan ketika pekerjaan menuntut perangkat lunak tertentu dengan fungsi yang sulit direplikasi di Linux.

Berikut lima aplikasi Windows yang disebut masih menjadi penghalang utama migrasi pengguna profesional ke Linux.

1. Microsoft Word

Microsoft Word kerap dianggap sebagai salah satu hambatan terbesar bagi pengguna yang ingin berpindah ke Linux. Aplikasi ini banyak digunakan untuk penulisan, penyuntingan, dan administrasi, bahkan sering menjadi persyaratan dalam pekerjaan maupun studi.

Versi web Word memang dapat diakses di Linux, tetapi sejumlah fitur penting disebut tetap terkunci di versi desktop. Pengguna yang memerlukan opsi tata letak tertentu, tampilan lanjutan, makro, atau skrip formulir tidak akan menemukannya di Word versi daring. Selain itu, fitur-fitur lanjutan yang menjadi pembeda dengan versi desktop berbayar—yang termasuk dalam langganan Microsoft 365 mulai dari US$9,99 per bulan—tidak tersedia di versi web.

Untuk alternatif, Google Docs disebut sebagai opsi berbasis web yang dapat diakses gratis dan terus berkembang, termasuk dukungan akses luring. Sementara itu, LibreOffice Writer tersedia sebagai solusi sumber terbuka dan gratis yang kompatibel dengan Microsoft Office di Linux, macOS, dan Windows, meski tidak sepenuhnya menyamai fungsionalitas Word secara 1:1.

2. Adobe Photoshop

Adobe Photoshop juga menjadi alasan banyak profesional bertahan di Windows. Selama bertahun-tahun, Photoshop telah menjadi standar industri untuk penyuntingan foto dan desain grafis, tetapi dukungan resminya hanya tersedia untuk macOS dan Windows.

Adobe menyediakan versi web Photoshop dengan uji coba gratis, namun akses penuh memerlukan langganan berbayar mulai dari US$22,99 per bulan. Seperti Word versi web, Photoshop versi web juga membatasi fitur-fitur lanjutan. Pengguna yang membutuhkan alat canggih, akses luring, dan dukungan plugin pada umumnya harus mengandalkan aplikasi desktop, sehingga Windows tetap menjadi sistem operasi yang dibutuhkan.

Di Linux, alternatif sumber terbuka seperti GIMP dan Krita tersedia untuk kebutuhan penyuntingan gambar. Untuk fungsi yang mendekati peran Lightroom, Darktable juga dapat dipertimbangkan.

3. AutoCAD

Bagi arsitek, insinyur, desainer, maupun mahasiswa, AutoCAD masih menjadi perangkat lunak penting—terutama ketika pekerjaan membutuhkan fungsi spesifik seperti skrip kustom yang tidak berjalan di aplikasi pesaing. AutoCAD tidak menyediakan dukungan untuk Linux, dan platform utama yang didukung adalah Windows serta macOS.

Versi daring AutoCAD pun disebut tidak kompatibel dengan Linux. Upaya menjalankan aplikasi desktop melalui WINE atau mesin virtual kerap menemui kendala. Autodesk juga memiliki sejumlah produk vertikal yang terkait AutoCAD, seperti AutoCAD Architecture, Electrical, Mechanical, dan Plant 3D, yang dirancang untuk kebutuhan desain tertentu. Dalam konteks dukungan plugin, AutoCAD disebut lebih mengutamakan Windows, sementara versi macOS cenderung lebih fokus pada desain 2D.

Alternatif yang tersedia di Linux antara lain LibreCAD untuk kebutuhan 2D yang bersifat sumber terbuka dan gratis, serta FreeCAD untuk pemodelan 3D, juga gratis dan sumber terbuka, dan tersedia di Linux, Windows, serta macOS.

4. Paint.NET

Meski Windows memiliki aplikasi Paint bawaan, sebagian pengguna membutuhkan editor gambar yang lebih canggih—misalnya dukungan lapisan—tanpa harus menjalankan aplikasi berat seperti Photoshop. Paint.NET menempati posisi tersebut di Windows.

Dibangun di atas .NET Framework, Paint.NET bersifat eksklusif untuk Windows. Aplikasi ini gratis, mendukung lapisan, menyediakan fitur undo tanpa batas, serta memiliki dukungan plugin yang telah berkembang selama bertahun-tahun. Namun, karena ketergantungannya pada teknologi Windows, satu-satunya cara menggunakan Paint.NET adalah tetap berada di Windows.

Alternatif yang disebut antara lain PaintPP, klon sumber terbuka berbasis C++ dan Qt yang menggunakan OpenCV sebagai pengganti .NET Framework. PaintPP saat ini hanya mendukung Linux, tetapi disebut sudah lama tidak diperbarui. Opsi lain adalah Pinta, yang mendukung lapisan secara bawaan dan tersedia di Linux, Windows, dan macOS.

5. ShareX

Alat tangkapan layar dan perekaman sering tidak menjadi pertimbangan utama saat memasang aplikasi, tetapi kebutuhannya terasa ketika alat bawaan seperti Snipping Tool dianggap terbatas. ShareX dikenal karena opsi tangkapan layar yang beragam, termasuk kustomisasi dan tangkapan multi-wilayah. Aplikasi ini juga dapat merekam video layar dan mengubahnya menjadi GIF.

ShareX dibangun menggunakan teknologi khusus Windows seperti .NET Framework dan Windows Forms, sehingga tidak tersedia di macOS maupun Linux. Aplikasi ini gratis dan sumber terbuka, serta dipandang penting oleh sebagian pengguna Windows karena fiturnya dinilai melampaui aplikasi bawaan, terutama setelah Windows 11 menyematkan AI ke Snipping Tool yang disebut tidak diinginkan.

Untuk alternatif lintas platform, Flameshot dapat dipertimbangkan karena menawarkan kustomisasi dan penyuntingan dalam aplikasi, serta tersedia gratis dan sumber terbuka untuk Windows, macOS, dan Linux. Sementara untuk kebutuhan lebih canggih, OBS (Open Broadcaster Software) dapat digunakan untuk merekam layar maupun melakukan streaming ke layanan seperti YouTube dan Twitch.

Kesenjangan ketersediaan aplikasi ini menunjukkan bahwa meskipun Linux makin menarik—terutama di segmen gim—ekosistem perangkat lunak profesional masih menjadi tantangan besar. Bagi individu maupun perusahaan yang bergantung pada aplikasi tertentu dalam alur kerja sehari-hari, keputusan untuk beralih ke Linux perlu mempertimbangkan ketersediaan alternatif serta potensi kompromi pada fungsionalitas.